Presiden Haiti: Banyak organisasi bantuan sembunyikan kasus skandal seks

Presiden Haiti: Banyak organisasi bantuan sembunyikan kasus skandal seks

Ilustrasi Haiti setelah Badai Matthew melanda. Seorang perempuan melindungi dirinya sendiri dari hujan ketika Badai Matthew mendekat di Les Cayes, Haiti, Senin (3/10/2016). (REUTERS/Andres Martinez Casare)

Port-Au-Prince, Haiti (ANTARA News) - Presiden Haiti, Jovenel Moise, Jumat, mengatakan, skandal seks oleh staf lembaga amal Inggris Oxfam hanya pucuk dari "gunung es" dan menyerukan investigasi terhadap Doctors Without Borders alias Medecins Sans Frontieres dan organisasi-organisasi bantuan lainnya yang datang ke negara itu setelah gempa Bumi pada 2010.

"Kasus Oxfam merupakan bagian dari gunung es yang terlihat," kata Moise dalam wawancara lewat telepon dengan Reuters, Jumat. "Tidak hanya terjadi pada Oxfam tetapi juga sejumlah LSM lainnya dalam situasi yang sama, tetapi mereka menyembunyikan informasi tersebut."

Skandal itu telah menggoyang sektor bantuan, dengan Inggris dan Uni Eropa mengaji ulang pendanaan Oxfam.

Oxfam, salah satu lembaga amal untuk menolong korban bencana terbesar di dunia, meminta maaf pekan ini atas skandal seks yang tak disebutkan secara khusus dan melakukan penyelidikan internal pada  2011. Lembaga itu tidak membenarkan atau membantah laporan harian Times of London yang memberitakan stafnya membayar wanita tuna susila untuk melakukan seks.

"Seharusnya ada penyelidikan terhadap organisasi-organisasi lainnya yang bekerja di sini sejak 2010," kata Moise. "Sebagai contoh Doctors Without Borders harus memulangkan sekitar 17 orang karena kedapatan melakukan kegiatan yang tak dijelaskan," katanya.

Tak jelas kasus-kasus apa yang Moise sebutkan.

Doctors Without Borders atau Medecins Sans Frontieres yang dikenal di negara-negara bukan berbahasa Inggris dan berkedudukan di Jenewa, sedang mengecek komentar-komentar yang disampaikan Moise dan menyambut baik pemeriksaan atas sektor bantuan itu, kata wanita juru bicara Analia Lorenzo. Ia menambahkan bahwa organisasi itu tak memberikan toleransi terhadap pelecehan seks. 

Haiti merupakan salah satu negara di Karibia yang berbahasa Prancis.

Pada Rabu, Doctors Without Borders, yang mengirim staf medis di seluruh dunia ke kawasan-kawasan terdampak perang dan bencana, menyatakan, telah menangani 24 kasus pelecehan seks atau tindakan sejenisnya di antara 40.000 staf tahun lalu, dan memecat 19 orang. 

Tak dijelaskan secara rinci dimana pelecehan atau aksi sejenisnya terjadi, siapa yang dipecat atau apakah keluhan-keluhan juga didata bersama dengan penegak hukum setempat.

Roland Van Hauwermeiren, mantan pegawai Oxfam yang jadi pusat perhatian dari skandal seks, Kamis lalu, mengatakan, dia telah membuat kesalahan melakukan hubungan seks bersama dengan saudara perempuan penerima bantuan ketika bertugas di Haiti tapi membantah membayar wanita tuna susial untuk berhubungan seks atau aksi lain yang sejenis.

Dalam sepucuk surat terbuka kepada stasiun radio dalam bahasa Belgia, ia mengatakan takut bahwa Oxfam, dan para pekerja bantuan lainnya dan mereka yang membantu akan menderita akibat tuduhan-tuduhan salah.

"Kami mengimbau pemerintah Belgia dan Inggris untuk mengambil tanggung jawab, dan kami menyerukan ke komunitas internasional untuk membantu meyakinkan mereka yang berbuat salah akibat skandal tersebut dihukum, apakah mereka warga Belgia atau warga negara lainnya," kata Moise. "Martabat orang-orang Haiti telah terinjak-injak."

Menteri Hukum Haiti Heidi Fortune mengatakan kepada Reuters pada Rabu ia telah meminta Belgia untuk membantu memulai aksi hukum terhadap Van Hauwermeiren. Ia tidak mengatakan hukum yang mana telah dilanggar.

Pewarta:
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar