Tentang kasus Harimau Bonita, KLHK: yang salah perilaku manusianya

Tentang kasus Harimau Bonita, KLHK: yang salah perilaku manusianya

Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Wiratno (kedua kanan) menjelaskan kronologis pencarian hingga proses evakuasi Harimau Sumatera yang bernama Bonita di Kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau, di Pekanbaru, Riau, Sabtu (21/4). Setelah melakukan pencarian selama 108 hari akhirnya tim terpadu penyelamat Harimau Sumatera berhasil menangkap Bonita yang telah menewaskan dua orang dan harimau tersebut dibawa ke Pusat Rehabilitasi Satwa Harimau Sumatera di Dharmasraya, Sumatera Barat. (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

Satwa liar tidak mengganggu kalau tidak ada yang mengganggu dia. Bisa dipastikan itu,
Pekanbaru (ANTARA News) - Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK Ir Wiratno menilai konflik antara harimau sumatera bernama Bonita yang memasuki perkampungan perkebunan sawit hingga menewaskan dua korban disebabkan kesalahan manusia.

"Yang salah perilaku manusianya," kata Wiratno dalam jumpa pers keberhasilan penangkapan harimau Bonita di Pekanbaru, Riau, Sabtu.

Dia mengatakan satwa liar, seperti Bonita tidak akan mengganggu apalagi memasuki perkampungan dan perkebunan sawit hingga menerkam manusia jika tidak terganggu habitatnya.

Wiratno mengatakan hal itu berdasarkan sejumlah referensi dan pengalaman dirinya dalam beberapa kali mengatasi konflik manusia dengan harimau.

Ia menjelaskan, beberapa penyebab kemungkinan terganggunya satwa liar seperti Bonita adalah ketika habitat si predator itu rusak atau ada keluarga dari satwa tersebut yang mati akibat ulah manusia.

"Satwa liar tidak mengganggu kalau tidak ada yang mengganggu dia. Bisa dipastikan itu," ujarnya.

Untuk itu, dia mengatakan bahwa penanggulangan konflik harimau dengan manusia seperti yang dilakukan di Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir dengan tidak mematikan predator itu menjadi contoh bagi daerah lainnya.

Baca juga: YAD teliti penyimpangan perilaku Harimau Bonita

Baca juga: Populasi Harimau Sumatera diperkirakan tersisa 400 ekor


Wiratno menuturkan bahwa upaya penanganan Bonita, harimau sumatera betina berusia empat tahun di Kecamatan Pelangiran merupakan atensi semua pihak, termasuk Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Dia mengakui, pada dasarnya cukup banyak konflik yang terjadi antara harimau dengan manusia di sejumlah wilayah lainnya.

Dia meminta agar upaya penanggulangan dengan melibatkan tim terpadu antara BBKSDA Riau, TNI, Polri serta Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir diterapkan wilayah lainnya untuk mengatasi permasalahan yang sama.

"Antisipasi ke depan, tim terpadu jalan terus. Saya menduga masih ada konflik-konflik serupa yang akan terjadi dan sudah terjadi di daerah lain. Penanganan ini bisa jadi contoh daerah lain," ujarnya.

Bonita, harimau sumatera betina dalam empat bulan terakhir berkeliaran di areal pemukiman warga dan perkebunan sawit PT THIP. Selama itu pula, Bonita dua kali menerkam dua manusia hingga tewas.

Pewarta:
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar