31 tewas akibat bom di kantor panitia pemilu Afghanistan

31 tewas akibat bom di kantor panitia pemilu Afghanistan

Arsip: Sejumlah pria membersihkan jendela pecah di kantor mereka yang berlokasi dekat serangan bom bunuh diri di Kabul, Afghanistan, Jumat (2/3/2018). (REUTERS/Omar Sobhani)

Kabul (ANTARA News) - Bom bunuh diri meledak di kantor pendaftaran pemilihan umum di ibukota Afghanistan, Kabul, pada Minggu hingga menewaskan sedikit-dikitnya 31 orang dan melukai lebih dari 50 lagi, kata pejabat setempat.

Kelompok ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap kantor itu, yang berperan penting dalam kepercayaan terhadap pemerintahan Presiden Ashraf Ghani, yang didukung negara Barat. Ghani berjanji menggelar pemilihan anggota parlemen pada tahun ini.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, Najib Danesh, mengatakan bahwa pengebom itu berjalan kaki menuju tempat kejadian tersebut, tempat petugas membagikan kartu pengenal sebagai bagian dari pendaftaran pemilih, yang akan memberikan suara pada pemilihan umum pada Oktober.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa sedikit-dikitnya 31 orang dipastikan tewas dan 54 terluka. Ledakan itu menghancurkan sejumlah mobil dan memecahkan kaca bangunan di dekatnya.

Bom pada Minggu itu adalah serangan paling besar di Kabul sejak 100 orang lebih tewas pada Januari lalu akibat bom yang disembunyikan di dalam mobil ambulan.

Setelah beberapa pekan tenang, ledakan itu terjadi di Dasht-e Barchi, sebuah wilayah di sebelah barat Kabul yang dihuni kelompok minoritas Syiah Hazara, yang sering kali menjadi korban serangan IS.

"Ada banyak perempuan, anak, dan semua orang tengah datang untuk mendapatkan kartu pengenal," kata Bashir Ahmad, yang berada di dekat tempat peristiwa itu, yang terjadi meski Kabul dijaga ketat.

Sejumlah kantor pendaftaran pemilih telah didirikan di berbagai wilayah Afghanistan menjelang pemilu parlemen dan dewan daerah yang akan digelar pada Oktober. Banyak pihak khawatir akan keamanan mengingat gelombang serangan dari kelompok seperti ISIS dan Taliban.

Presiden Ghani banyak mendapat tekanan dari dunia internasional untuk memastikan pemilihan umum tetap digelar pada tahun ini, menjelang pemilihan presiden pada 2019.

"Mereka harus menjaga negara ini tetap aman, jika tidak, maka orang lain harus menggantikan," kata Sajeda, korban luka akibat ledakan pada Minggu itu bersama tiga anggota keluarganya saat mengantre untuk mendapatkan kartu pengenal.

Pendaftaran pemilih dimulai pada bulan ini, namun sudah terjadi sejumlah serangan yang diduga bertujuan untuk mengganggu persiapan pemilihan umum.

Pada hari sama, bom jalanan di dekat tempat pendaftaran pemilih di kota Pul-I Khumri menewaskan enam orang anggota satu keluarga dan melukai tiga lagi. Mereka tengah melewati jalan tersebut dan tidak ada tanda hubungan serangan di Kabul dengan Pul-I Khumri.

Pemilihan anggota parlemen mengharuskan jutaan orang mendaftarkan diri untuk mendapatkan kartu pengenal nasional. Upaya itu harus selesai sebelum musim dingin dan jika tidak, maka pemilihan umum harus ditunda, demikian Reuters.

(Uu.G005/B002)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar