Sekolah adat dalam pandangan Rukka Sombolinggi

Sekolah adat dalam pandangan Rukka Sombolinggi

Sekretaris Jenderal AMAN, Rukka Sombolingi, saat membuka Jambore Barisan Pemuda Adat Nusantara di Kampung Muser, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, Rabu (18/4/2018). (ANTARA/HO/AMAN)

... belum lagi sistem pendidikan yang mendogma anak-anak untuk keluar kampungnya yang dia sebut sebagai "ilmu untuk ke luar kampung"...
Jakarta (ANTARA News) - Rukka Sombolinggi menghadiri Jambore Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) di Kampung Muser, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur pada 18-21 April. Dia adalah sekretaris jenderal AMAN setelah menggantikan seniornya, Abdon Nababan.

BPAN adalah organisasi sayap dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yang sedang dia pimpin. Dalam pertemuan yang berlangsung empat hari itu dia berharap para pemuda dapat membangun martabat masyarakat adat salah satunya dengan sekolah adat.

Menurut perempuan itu, sekolah adat maka masyarakat adat akan terus ada. "Visiku tentang masyarakat adat menjadi sangat terang dengan sekolah adat. Berarti kami tidak akan punah, kami akan ada," kata Rukka.

Masyarakat adat, menurut dia, adalah penyintas yang telah selamat dari masa ke masa. Mereka telah melewati berbagai macam rezim, dari masa Kerajaan Hindu-Buddha, masa kesultanan, kedatangan kolonial Belanda hingga saat ini.

Di setiap masa tersebut, mereka menghadapi tantangan yang berbeda-beda. Penghancuran paling besar menurut dia terjadi saat ini ketika mereka dijajah budayanya dan dirampas ruang hidupnya karena investasi.

Diskriminasi sosial serta desakan korporasi atas ruang hidup masyarakat adat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan masyarakat adat rentan punah, belum lagi sistem pendidikan yang mendogma anak-anak untuk keluar kampungnya yang dia sebut sebagai "ilmu untuk ke luar kampung".

Menurut dia ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah formal sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan mereka di kampung, sehingga memaksa para pemuda untuk keluar dari sana.

Akhirnya anak-anak tersebut memilih bekerja di kota ketimbang di kampungnya sendiri, akhirnya tinggallah orang-orang tua yang menetap di kampung tanpa ada anak muda yang membangun desanya. Hal itu membuat korporasi secara mudah mengambil alih desa mereka.

Rukka mengatakan pandangan tersebut juga diperkuat dengan media propaganda seperti banyaknya iklan perumahan atau sinetron yang menggambarkan kehidupan yang layak hanya berada di kota.

"kampung-kampung yang kosong ini sangat mudah diinvasi oleh perusahaan, makanya para pemuda adat ini sudah sadar dan membuat gerakan kembali ke kampung," kata perempuan berdarah Toraja itu alumnus IPB itu.

Dia mengatakan sekolah adat yang diinisiasi AMAN muncul kesadaran dari para muda adat yang melihat krisis solidaritas antara kampung dan kota di Indonesia, di mana orang kampung selalu dianggap bodoh, terbelakang, dan tidak pernah membuat pilihan rasional.

Padahal di saat yang sama, orang-orang kota sedang menikmati makanan yang dihasilkan dari tanah di kampung.

Hal itulah yang menjadi kritik para pemuda bahwa ada persoalan besar di mana mereka terus-terus di stigma tetapi kondisi di kampung sendiri juga sudah krisis karena anak-anak muda yang harusnya membangun kampung malah meninggalkannya karena mereka berpandangan kehidupan hanya ada di kota.

Mereka pun mulai kembali ke kampung dan menelusuri jejak leluhur, mereka datang kepada para orang tua dan bertanya tentang sejarah kampung mereka. Dari situ mereka menyadari banyak informasi seperti yang tidak diketahui anak muda.

Pengetahuan itu juga tidak pernah diajarkan di sekolah formal. Akhirnya mereka mendirikan sekolah adat untuk menjembatani pengetahuan yang terputus antar generasi itu.

Saat ini AMAN memiliki 31 sekolah adat. Di dalam sekolah adat itu, anak-anak diajarkan berbagai hal yang sesuai dengan kebutuhan dan kegiatan sehari-hari.

Setiap daerah memiliki fokus pendidikan berbeda, ada yang memulai dengan mengajarkan tentang ksatria, ada yang memulai dengan mengajarkan menari dan menyanyi, ada juga yang mengajarkan cara bertani serta membuat makanan.

Anak-anak secara aktif terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar, mereka langsung ke lapangan dan menerima langsung ilmu dari orang tua di sekitar lingkungan mereka.

"Jadi gurunya juga banyak, mereka langsung terjun dengan masyarakat," kata dia.

Dia mengatakan, antusiasme para orang tua dan anak-anak itu menggambarkan kerinduan akan pengetahuan setempat daerahnya masing-masing.

Para pemuda adat itu mendirikan sekolah adat dengan biaya sendiri, namun seiring waktu berjalan banyak pihak-pihak luar yang menawarkan bantuan untuk sekolah adat itu.

Biasanya bantuan yang mereka perlukan jika benda itu tidak tersedia di kampung tersebut, misalnya buku.

Sekolah adat itu pun berbadan hukum, di bawah Yayasan Pendidikan Masyarakat Adat Nusantara, di mana setiap sekolah wajib mempunyai surat keterangan terdaftar dan didaftarkan ke pemerintah sehingga setiap sekolah dapat mengakses bantuan jika ada dari pemerintah.

Selain membuat sekolah adat, mereka juga memasukkan pelajaran bermuatan setempat dalam kurikulum sekolah formal.

"Ada di beberapa tempat misalnya di Toraja dan di tempat-tempat yang hubungan masyarakat adat dengan pemerintah memang dekat, sehingga pelajaran yang ada pada masyarakat adat dapat dimasuk dalam muatan lokal," kata dia.

Dia berharap dengan adanya sekolah adat dapat membuka pikiran para pemuda desa untuk menjaga wilayah adat mereka, tidak hanya teritorinya saja tetapi seluruh aspek yang ada di dalamnya, seperti pemerintahannya, pengetahuannya, hukumnya, serta sumber dayanya agar dapat dikelola secara lestari dan adil.

Pewarta:
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar