Eco-Marathon, inspirasi Shell untuk calon insinyur masa depan

Eco-Marathon, inspirasi Shell untuk calon insinyur masa depan

120 tim mahasiswa dari 18 negara Asia dan Timur Tengah berkompetisi dalam Shell Eco-marathon Asia 2018 di Singapura pada Maret lalu. (Shell)

Jakarta (ANTARA News) - Sumber daya energi fosil memang semakin menipis seiring bergulirnya waktu, namun pada sisi lain urbanisasi, standar hidup, pertumbuhan penduduk, dan revolusi digital serta mobilitas modern membuat permintaan energi bakal terus meningkat.

Pada 2050, jumlah penduduk dunia diperkirakan meningkat menjadi hingga 9 miliar jiwa, hampir 2 miliar lebih banyak dari jumlah saat ini. Banyak orang di ekonomi yang baru tumbuh bergabung ke kelas menengah global, dan mereka membeli lemari es, komputer, dan peralatan lainnya yang mengonsumsi energi.

Bersamaan dengan itu, semakin banyak orang yang membeli mobil, mendorong pertumbuhan kendaraan menjadi dua kali lipat dari jumlah yang ada di jalan-jalan saat ini. Sementara sekitar tiga perempat populasi dunia akan tinggal di perkotaan sebelum pertengahan abad, yang memberikan tekanan lebih besar terhadap sumber daya pangan, air, dan energi yang penting bagi kesejahteraan dan kemakmuran bersama.

Shell, sebagai perusahaan minyak dan gas internasional, sangat menyadari kecenderungan pemanfaatan energi mendatang, dan menetapkan skenario untuk menghadapi tantangan kebutuhan energi dimasa depan, termasuk isu energi bersih yang semakin bergelora di seluruh penjuru dunia.


Menurut data PBB dan Shell, permintaan akan energi global, air, dan pangan diperkirakan akan meningkat sebesar 40-50 persen pada 2030 karena meningkatnya pertumbuhan dan kebutuhan penduduk.

Hal ini akan memberikan tekanan besar terhadap sumber daya vital karena energi digunakan untuk memindahkan dan mengolah air, sementara air dibutuhkan untuk menghasilkan energi, dan energi maupun air diperlukan dalam produksi makanan.

Sumber energi terbarukan (renewable energy sources) akan mensuplai hingga 30 persen dari energi global pada 2050, sementara sekarang hanya 13 persen. Shell menginvestasikan lebih dari 100 miliar dolar AS dari tahun 2011 hingga 2014 untuk mengembangkan energi baru.

Dalam hal mobilitas, Shell telah mengembangkan gas-to-liquids (GTL), proses yang mengubah gas alam menjadi produk cair berkualitas tinggi yang digunakan dalam bahan bakar dan pelumas. Gasoil GTL Shell terbakar dengan sulfur dioksida lebih rendah dan lebih sedikit nitrogen oksida dan emisi partikulat dibanding diesel berbasis minyak konvensional.

Inovasi Shell ini dapat digunakan untuk menggerakkan truk, bus, dan taksi, selain sedang dikembangkan untuk bahan bakar pesawat dengan uji coba bersama Airbus, Qatar Airways, dan Roll Royce yang mengarah pada pembuatan GTL Jet Fuel untuk mengurangi emisi partikulat.

Hidrogen dan advanced biofuel memiliki potensi untuk memainkan peran penting dalam campuran bahan bakar masa depan. Di Jerman dan AS, Shell memiliki stasiun pengisian bahan bakar untuk kendaraan sell bahan bakar hidrogen, yang tanpa menghasilkan emisi gas buang sama sekali.

Shell terus mengembangkan biofuel lanjutan dari tanaman non-makanan di pusat teknologinya di Houston, AS, sedangkan di Brasil, perusahaan ini punya usaha bersama, Raizen, sebagai produsen etanol rendah emisi di dunia yang dibuat dari tebu.

Eco-marathon

Tidak hanya itu, Shell juga aktif mengkampanyekan penggunaan energi yang efisien dikalangan muda usia, melalui Shell Eco-marathon, sebuah ajang kompetisi untuk menciptakan mobil masa depan yang bisa menempuh perjalanan terjauh namun hemat energi, dengan tetap memenuhi standar keamanan.

Pada 2018 ini, ada tiga kompetisi regional Shell Eco-Marathon, yang diadakan di Asia, Amerika, dan Eropa. Kompetisi tersebut menjadi ajang bagi mahasiswa untuk menguji kendaraan hasil rancangan dan buatan mereka. Tujuannya jelas, memberi mereka inspirasi untuk menjadi ilmuwan dan insinyur masa depan.

Indonesia selalu mendapat panggung terhormat pada "laga" wahana transportasi darat dengan prinsip paling irit, paling akrab lingkungan, dan paling inovatif ini. 

Pada Shell Eco-Marathon Asia 2018 bertema Make the Future yang berlangsung di Changi Exhibition Center, Singapura, Maret lalu, Indonesia mengirimkan 26 tim dari 20 perguruan tinggi.


Mereka, antara lain Garuda UNY Eco Team dari Universitas Negeri Yogyakarta, Semar Urban UGM Indonesia dan Semar Proto UGM Indonesia dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Bengawan Team 1 dan Bengawan Team 2 Universitas Sebelas Maret Solo, Pandawa (Universitas Negeri Semarang, Mesin Polnep Diesel Team (Politeknik Negeri Pontianak, Pontianak), Wasaka (Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin), serta Mesin UM Pontianak (Universitas Muhammadiyah, Pontianak).

Dalam kompetisi Asia ini dilombakan dua kategori, yakni Urban Concept dan Prototype. Kategori Urban Concept fokus pada kendaraan roda empat super ekonomis serta kepraktisan desain untuk memenuhi kebutuhan transportasi perkotaan, sedangkan Prototype lebih menekankan pada kendaraan futuristik dan beraerodinamika tinggi yang mampu mengurangi hambatan dan memaksimalkan efisiensi.

Pada ajang ini, tim Indonesia berhasil mengharumkan nama negaranya, dengan meraih gelar juara pertama pengemudi tercepat dan hemat energi melalui tim Semar Urban dari Universitas Gadjah Mada.

Kemudian, posisi kedua direbut Tim 2 dari Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya dan posisi ketiga untuk Garuda Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Eco Team, yang juga mendapatkan penghargaan Off-track dalam kategori keselamatan untuk desain kendaraan Urban Concept-nya.
Tim dari Universitas Gadjah Mada, Indonesia, yang memenangi kategori Urban Concept Shell Eco-Marathon Asia 2018 berkat mobil karyanya Semar Urban UGM. (Shell)
Bukan hanya itu, Tim Indonesia juga merebut penghargaan terbanyak dalam ajang ini, yakni lima dari tujuh yang diperebutkan. Lima penghargaan itu didapatkan masing-masing oleh ITS Team 2 (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Semar Urban UGM Indonesia (Universitas Gadjah Mada), Garuda UNY Eco Team (Universitas Negeri Yogyakarta), Nogogeni ITS Team 1 (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), dan Bumi Siliwangi Team 4 (Universitas Pendidikan Indonesia)

Prestasi ini membuat para tim juara berhak bersaing dengan tim-tim dari Amerika dan Eropa di kompetisi adu cepat mobil hemat energi di Drivers World Championship (DWC) Final di London pada Juli mendatang.

"Selamat kepada tiga tim Indonesia yang berhasil menjadikan All Indonesian Team sebagai juara di DWC Asia. Kita semua sangat bangga dengan pencapaian luar biasa ini. Bukti nyata dan inspiratif bahwa anak-anak muda Indonesia memiliki talenta dan kemampuan yang sangat kompetitif tidak hanya di regional, tetapi juga di tingkat global," kata Darwin Silalahi, Country Chairman dan Presiden Direktur PT Shell Indonesia.

Dengan raihan menggembirakan Tim Indonesia pada ajang ini, adalah bukti nyata bahwa apa yang dilakukan Shell telah menginspirasi generasi muda Indonesia untuk menciptakan karya terbaik dalam hal mobilitas dan efisiensi energi, tidak hanya di Asia, tapi semoga di tingkat dunia mereka membuktikannya.

Pewarta:
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar