AIDA: Soekarno berhasil satukan Indonesia melalui Pancasila

AIDA: Soekarno berhasil satukan Indonesia melalui Pancasila

Dokumentasi Presiden Soekarno didampingi Wapres Moh Hatta melakukan jumpa pers sebagai Pemerintah RI yang pertama di Pengangsaan Timur 56, Jakarta, 4 September 1945. (FOTO ANTARA-IPPHOS)

Dari nilai-nilai luhur Pancasila, Indonesia mampu menjadi negara besar yang demokratis, rukun, dan toleran."
Jakarta (ANTARA News) - Direktur Eksekutif Aliansi Indonesia Damai (AIDA) Hasibullah Satrawi menilai Proklamator Indonesia Soekarno adalah sosok yang berhasil menyatukan Indonesia yang beragam melalui Pancasila.

"Dari nilai-nilai luhur Pancasila, Indonesia mampu menjadi negara besar yang demokratis, rukun, dan toleran," kata Hasibullah Satrawi pada seri diskusi "Bung Karno dan Islam" di Megawati Institute, di Jakarta, Kamis.

Menurut Hasibullah, negara Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim, menunjukkan Bung Karno melalui Pancasila berhasil menghadirkan Islam Nusantara.

Hasibullah menjelaskan, Bung Karno adalah seorang nasionalis yang sangat memahami Islam. Pemahamannya terhadap Islam, diterjemahkan Bung Karno dengan merangkul rakyat sejak masa perjuangan hingga setelah Indonesia merdeka.

"Keliru jika Bung Karno dinilai jauh dari ajaran Islam. Bung Karno adalah sosok Islam Nusantara yang berkemajuan," ujarnya.

Dalam pandangan Hasibullah, Bung Karno mampu menyatukan rakyat Indonesia yang beragam, baik suku, agama, ras, dan antargolongan, menjadi satu dalam negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bung Karno, kata dia, juga berperan besar dalam menjaga semangat perjuangan seluruh rakyat nusantara dalam mencapai kemerdekaan Indonesia.

"Kalau bukan perjuangan Bung Karno yang menggali Pancasila dengan nilai-nilai luhurnya yang universal, mungkin tidak terbentuk Indonesia seperti saat ini, tapi terbelah-belah menjadi negara sendiri-sendiri, Sumatera, Jawa Kalimantan," imbuhnya.

Hasilbullah menegaskan, pemikiran-pemikiran Bung Karno yang universal, berhasil meyakinkan tokoh-tokoh Islam pada saat itu untuk tidak menjadikan Indonesia sebagai negara Islam, karena di dalamnya terdapat rakyat pemeluk agama lain dan ikut berjuang untuk mencapai kemerdekaan.

Menurut dia, Bung Karno merumuskan intisari ilmu Islam, sehingga para tokoh Islam tidak mempersoalkan apakah menjadi negara Islam atau NKRI, tapi yang utama norma Islamnya hadir.

"Tokoh-tokoh Islam pada saat itu, telah menyadari bahwa dalam Al Quran, tidak ada satu ayat pun secara eksplisit yang menyebut bahwa umat Islam harus mendirikan negara Islam," ucapnya.

Hasibullah mengingatkan, dari fakta-fakta tersebut, harus dipahami bahwa Indonesia terbentuk dari para tokoh-tokoh perjuangan pergerakan kemerdekaan yang sangat memahami agama dan beragam.

"Bung Karno saat itu dianggap sebagai kelompok nasionalis yang sangat memperhatikan konsep, roh, dan amalan Islam," tuturnya.

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar