Warung dadakan jadi tujuan wisata kuliner pemudik

Warung dadakan jadi tujuan wisata kuliner pemudik

Warung dadakan yang menjual berbagai macam penganan dan minuman mulai dari dawet ayu hingga ketoprak menjadi tujuan wisata kuliner pemudik di sepanjang jalur Pejagan-Bumiayu-Purwokerto, Kamis (14/6/2018). (ANTARA News/Hanni Sofia)

Sehari-hari saya buruh saja, kadang kerja petik bawang."
Brebes (ANTARA News) - Warung dadakan yang menjual berbagai macam panganan dan minuman mulai dari dawet ayu hingga ketoprak menjadi tujuan wisata kuliner pemudik di sepanjang jalur Pejagan-Bumiayu-Purwokerto, Jawa Tengah.

Berdasarkan pantauan ANTARA News di sekitar 7  kilometer setelah Pos Pengamanan (Pospam) Dremoleng, Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Kamis, terlihat puluhan warung dadakan menyajikan makanan khas Nusantara mulai dari ketoprak, dawet Banjarnegara, mie instan, hingga kopi dalam kemasan plastik.

Para pedagang warung dadakan itu tampak mewarnai jalur mudik Pejagan-Bumiayu, Purwokerto, dan sekaligus menjadi tujuan wisata kuliner pemudik yang ingin melepas lelah.

Sekitar 7 km setelah lepas dari Pospam Dremoleng, Ketanggungan, Kabupaten Brebes, di tengah area persawahan tepatnya di Desa Karangbale, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, berjejer warung setengah permanen sepanjang jalan menyajikan menu yang sama, ketoprak dan dawet ayu Banjarnegara.

Salah seorang pedagang yang warga setempat, Waridi (47), mengaku dagang ketoprak dan dawet dijalani sudah berjalan tujuh hari.
 
Dia menjual ketoprak seharga Rp20.000 hingga Rp25.000 per porsi, sedangkan dawet ayu senilai Rp15.000 per gelas.

Waridi mengaku tidak khawatir, meski puluhan warung berjejer menawarkan menu makanan dan minuman yang sama.

"Namanya rezeki enggak ke mana, kalau Allah sudah ngasih rezeki ya pasti laku," tutur Waridi.

Ia mengaku senang dagangannya bisa menjadi tujuan wisata kuliner pemudik, dan penghasilan selama buka warung dadakan, dari pagi hingga petang tidak pasti.

"Kadang dapat Rp150.000 hingga Rp250.000 per hari," katanya.

Sementara itu, Manisah (50), yang juga buka warung dadakan dawet ayu mengalami hal serupa.

Meski pendapatan tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya, ia mengaku senang bisa membuka warung dadakan setahun sekali.

"Sehari-hari saya buruh saja, kadang kerja petik bawang," katanya menambahkan.

Baca juga: Warung dadakan bermunculan di jalur mudik Karawang-Subang

Baca juga: Warung dadakan bermunculan di jalur mudik Karawang

Pewarta: Hanni Sofia
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar