Jakarta (ANTARA News) - Para investor dan pelaku pasar di Bursa Efek Jakarta (BEJ), Kamis menyatakan kekecewaannya, karena saham Bank BNI yang melaksanakan pencatatan perdananya tidak mencetak keuntungan (gain) pada hari pertamanya di pasar modal Jakarta. Harga saham secondary offering (penawaran kedua) Bank BNI dalam pencatatan perdananya pada awal transaksi di BEJ, Senin, langsung turun dari Rp2.050 menjadi Rp1.975 per saham. Selanjutnya pada dua sesi perdagangan harga saham BNI hanya mampu ditutup pada Rp2.000 per saham, masih lebih rendah dari harga perdananya. Menurut Analis dari Mega Capital, Felix Sindhunata, kondisi saham BNI kali ini sangat berbeda jika dibandingkan pelaksanaan perdagangan saham perdana emiten-emiten sebelumnya yang mampu memberikan keuntungan. "Biasanya pada saat perdagangan hari pertama, harga saham perdana bisa meningkat dengan cepat. Tapi tidak, pada saham BNI," kata Felix. Sementara itu analis dari Yulie Securindo Hendra Bujang mengungkapkan turunnya harga saham BNI pada perdagangan telah membuat kecewa sejumlah investor, yang memang berharap bisa meraup untung. Apalagi saham BNI, katanya, digadang-gadang menjadi idola baru di lantai bursa dan sempat diberitakan permintaannya oversubcribed (kelebihan pemesan beli). "Ternyata harganya susah sekali naik. Investor banyak yang kecewa," katanya. Baik Felix maupun Hendra menilai kondisi pasar saham yang labil saat ini menjadi penyebab utama kurang cemerlangnya pergerakan saham BNI. "Secara fundamental sebenarnya BNI cukup bagus. Mungkin kondisi pasar tidak memungkinkan," katanya. Felix mengatakan karakter saham BNI sejak dahulu pergerakannya memang kurang bagus. Kondisi itu ditambah lagi dengan begitu besarnya saham yang dilepas ke pasar, hingga mencapai 3,9 miliar saham dengan harga yang cukup tinggi. "Dengan kapitalisasi sebesar itu, sulit bagi underwriter (penjamin emisi) untuk menjaga harga saham BNI. Dibutuhkan dana yang sangat besar. Jadi sulit sekali menaikkan harga saham BNI," paparnya. Sementara penjamin pelaksana emisi yakni PT Bahana Securities dan PT Danareksa Sekuritas tidak mampu berbuat banyak untuk menahan penurunan saham tersebut. Beberapa sekuritas asing juga melakukan tekanan jual seperti Merryl Linch dan Kim Eng Securities dan Danareksa juga malah ikut menjual padahal sebagai salah satu penjamin pelaksana emisi yang seharusnya ikut menjaga saham BNI. Meneg BUMN Sofyan Djalil dapat memahami kalau harga saham BNI tersebut turun. "Karena pasar saat ini memang sedang bergejolak. Namun fundamental perusahaan (BNI) dalam kondisi yang bagus, sehingga saham BNI cukup layak dikoleksi dalam jangka panjang. Kami yakin nanti harga sahamnya pasti naik," katanya. Hal senada diungkapkan Dirut BNI Sigit Pramono. Menurutnya BNI masuk pasar pada saat yang kurang menguntungkan, sehingga harga sahamnya turun. Namun katanya harga saham BNI akan naik lagi ketika gejolak pasar sudah mereda.(*)

Editor: Bambang
Copyright © ANTARA 2007