Abbas kembali tolak rencana perdamaian AS bagi Timteng

Abbas kembali tolak rencana perdamaian AS bagi Timteng

Presiden Palestina Mahmoud Abbas berjalan di dalam rumah sakit di Ramallah, di Tepi Barat yang diduduki, Senin (21/5/2018). (Palestinian President Office (PPO)/Handout via REUTERS)

Ramllah, Palestina (ANTARA News) -  Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Rabu (15/8) kembali menegaskan bahwa rakyat Palestina menolak rencana baru perdamaian yang diusulkan oleh Amerika Serikat, yang dikenal sebagai "Kesepakatan Abad Ini".

Abbas mengeluarkan pernyataan tersebut dalam sidang pembukaan Dewan Pusat Palestina yang diselenggarakan di Ramallah, Tepi Barat Sungai Jordan.

"Kami memberitahu mereka yang mengklaim bahwa kami menerima baik Kesepakatan Abad Ini, bahwa kami adalah yang pertama yang menolak dan memeranginya," kata Abbas, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis siang. Ia menambahkan bahwa rakyat Palestina akan memerangi kesepakatan tersebut sampai kesepakatan itu "terguling".

ia juga menyebut hukum baru Negara Bangsa Israel sebagai "fasis". dan mengatakan rakyat Palestina akan terus berjuang melawan semua keputusan kaum pendudukan.

Saat mengomentari keputusan Israel untuk memangkas tunjangan keuangan yang digunakan Pemerintah Otonomi Palestina untuk mensubsidi keluarga rakyat Palestina yang dipenjarakan di Israel dan keluarga orang Palestina yang tewas oleh Israel, Abbas berkata, "Kami takkan pernah berhenti mendanai keluarga itu."

Sementara itu, abbas menyalahkan Gerakan Perlawanan Islam (HAMAS) --yang telah menguasai Jalur Gaza sejak 2007-- karena menghalangi upaya untuk mengakhiri perpecahan internal Palestina dan mencapai perujukan penuh.

"Kami hanya menerima baik perujukan penuh," kata Abbas. "Takkan ada negara Palestina di Jalur Gaza dan takkan ada Negara Palestina tanpa Jalur Gaza."

"HAMAS tak memiliki keinginan baik untuk mencapai perujukan penuh dan ada sebagian pihak yang tidak mendorong perujukan," ia menambahkan.

Presiden Palestina tersebut "takkan menerima baik keberadaan milisi bersenjata di Jalur Gaza" sebab "kami menginginkan satu pemerintah, satu hukum dan satu senjata hukum", demikian ikrar presiden Palestina itu.

Editor: Chaidar Abdullah

Pewarta:
Editor: Gusti Nur Cahya Aryani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar