Teheran (ANTARA News) - Iran, Senin, membantah tuduhan AS bahwa satuan Pengawal Revolusinya, Pasukan Quds, beroperasi di dalam wilayah Irak untuk menyulut kerusuhan lebih besar di negara tetangganya yang dicabik perang. "Pernyataan mereka tidak benar dan tidak bijaksana," kata Kepala Keamanan Nasional Ali Larijani, sebagaimana dikutip AFP dari kantor berita ISNA. Seorang jenderal AS, Ahad, menuduh sebanyak 50 anggota pasukan elit Iran, Pengawal Revolusi, berada di dalam wilayah Irak dan melatih anggota kelompok garis keras Syiah agar dapat melancarkan serangan terhadap pasukan keamanan Irak dan AS. Mayor Jenderal Rick Lynch, Komandan Pasukan AS di Irak tengah, mengatakan anggota Pasukan Quds telah mendirikan pangkalan di provinsi Babil, Karbala dan Najaf dan di pinggir selatan ibukota Irak, Baghdad. "Jika terdapat 50 anggota Pasukan Quds di Irak, berikan nama lima dari mereka," demikian tantangan Larijani. "Sebagian orang mengatakan senjata dengan tulisan `buatan Iran` di atasnya telah memasuki Irak dari Iran. Tentu saja pernyataan ini salah," katanya. Militer AS secara rutin telah menuduh Pasukan Quds melatih gerilyawan garis keras Irak dalam penggunaan roket dan alat penembus yang terbuat dari peledak (EFP) --bom seukuran kepalan tangan yang mampu menembus kendaraan lapis baja berat-- tapi pernyataan Lynch adalah pernyataan pertama bahwa mereka beroperasi di dalam wilayah Irak. Pasukan Quds adalah satuan operasi rahasia Pengawal Revolusi. Gedung Putih sedang berusaha memasukkan Pasukan Quds ke dalam daftar hitam kelompok teror. Amerika Serikat menuduh Iran, yang mayoritas warganya berfaham Syiah, menghasut kerusuhan antar-aliran agama di Irak. Iran membantah tuduhan tersebut dan menyalahkan pendudukan pimpinan AS sebagai pangkal ketidak-amanan di Irak. (*)

Pewarta:
Copyright © ANTARA 2007