counter

Pemerintah segera mendata fasilitas keagamaan terdampak gempa

Pemerintah segera mendata fasilitas keagamaan terdampak gempa

Tim SAR gabungan melakukan pencarian korban di Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (6/10/2018). Pencarian korban terus dilakukan di Perumnas Balaroa yang mengalami kehancuran akibat likuifaksi tanah. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/hp.

Malang, Jawa Timur (ANTARA News) - Kementerian Agama akan segera mendata aparatur sipil negara serta fasilitas keagamaan yang terdampak bencana gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan pemerintah akan mendata dampak bencana terhadap fasilitas pendidikan keagamaan seperti pondok pesantren dan madrasah, Kantor Urusan Agama (KUA), serta rumah ibadah.

"Kita akan melakukan tahap identifikasi, minggu depan akan kita lakukan di Sulawesi Tengah. Setelah itu, baru kita masuk pada tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi," kata Lukman seusai menghadiri The 3rd International Conference on University-Community Engagement 2018 (ICON UCE) di Kota Malang, Senin.

Kementerian Agama menerapkan tiga tahapan dalam menangani dampak bencana alam seperti yang terjadi di Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat (NTB), yang meliputi pembentukan tim tanggap darurat, identifikasi, dan rehabilitasi.

Menteri Agama menjelaskan pendataan dan identifikasi dampak bencana tidak bisa dilakukan sesaat setelah terjadi bencana alam. Dalam kondisi darurat semua upaya difokuskan untuk menolong warga yang terdampak bencana. 

"Mereka masih perlu waktu. Sekarang masih masuk fase darurat, kami memberikan bantuan kebutuhan pokok yang diperlukan," kata Lukman.

Lukman menjelaskan bahwa nantinya pendataan juga akan dilakukan pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu untuk menentukan kebijakan dalam penyelenggaraan pendidikan pascabencana. Pemerintah berencana membangun tenda darurat untuk mendukung kegiatan belajar mengajar sementara di institut itu. 

"Tapi, selain itu, kita akan kembangkan untuk kuliah di IAIN lain yang berdekatan dengan Palu, seperti di Palopo, Sulawesi Selatan," katanya.

Selain menyebabkan 1.944 orang meninggal dunia, gempa, tsunami dan likuifaksi yang melanda sebagian wilayah Sulawesi Tengah pada 28 September menurut posko tanggap bencana juga memaksa 62.359 orang mengungsi serta menyebabkan 66.926 rumah serta 2.736 sekolah rusak.

Baca juga:
Menteri Nasir: Kerusakan kampus di Palu masih didata
Satelit deteksi 5.000 bangunan rusak di Palu-Donggala

 

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar