Ratusan karya narapidana dipamerkan di Museum Keramik

Ratusan karya narapidana dipamerkan di Museum Keramik

Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kemkumham Sri Puguh Budi Utami melihat karya narapodana dalam pembukaan pameran "Napi Craft" di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta, Rabu (31/10/2018). (ANTARA/Dyah Dwi)

Jakarta (ANTARA News) - Sebanyak 200 karya seni dan instalasi buatan narapidana dari 30 lapas di Indonesia dipamerkan di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta, pada 31 Oktober hingga 7 November 2018.

"Pameran ini adalah pameran yang menitikberatkan pada hasil karya seni yang tinggi, terpilih yang ditampilkan di sini," kata Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kemkumham Sri Puguh Budi Utami dalam pembukaan "Napi Craft" di Museum Seni Rupa dan Keramik, Jakarta, Rabu.

Karya seni narapidana yang dipamerkan antara lain rajutan, lukisan piring, olahan koran bekas, boneka, batik, lukisan, Al Quran raksasa, kaligrafi, robot korek api serta meja catur batok kelapa.

Terdapat pula demo pembuatan batik tulis oleh narapidana dari Lapas Klas I Cipinang.

Diharapkan pengunjung pameran itu, ucap Sri Puguh, dapat menikmati karya seni dan instalasi serta semangat untuk berubah di balik karya seni yang dipamerkan.

Sri Puguh menuturkan karya yang dipamerkan terhitung sedikit dan untuk mewakili karya dari 170 ribu narapidana di Indonesia, apabila ditambah dengan tahanan sebanyak 248 ribu, yang tersebar di 522 lapas dan rutan di seluruh Indonesia.

Ia menekankan dunia seni tidak sekedar jalan melupakan waktu selama menjalani masa pidana, tetapi juga harus memiliki nilai ekonomi.

Selama pameran berlangsung karya seni dan instalasi hanya dipamerkan, tetapi apabila terdapat pengunjung yang berminat dapat menghubungi Kemkumham.

Napi Craft pertama kali diselenggarakan pada 2012 dan dinilai telah meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap isu pemasyarakatan.

Baca juga: Yasonna Laoly kagumi karya narapidana

Baca juga: Mensos: tidak ada kata terlambat mantan napiter

Baca juga: Produk narapidana ikuti Trade Expo Indonesia 2018

Pewarta: Dyah Dwi Astuti
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar