Artikel

Peta politik AS pasca-Pemilu Sela 2018

Peta politik AS pasca-Pemilu Sela 2018

Gedung Putih. (Reuters,)

polarisasi akan semakin parah dan akan menyebabkan perpecahan di dalam negeri AS itu sendiri.
Jakarta (Antara News) - Pemilu Sela AS yang telah diselenggarakan pada Selasa, 6 November 2018, menimbulkan kemungkinan perubahan peta politik yang signifikan dalam pemerintahan Presiden Trump.

Partai Demokrat  telah memenangi suara dalam pemilihan anggota DPR, sedangkan partai Republik unggul di perolehan suara pemilihan anggota Senat.

Lebih dari itu, Pemilu Sela juga memperlihatkan bagaimana rakyat AS menilai kepemimpinan Presiden Donald Trump dan menentukan peluangnya pada Pemilihan Presiden tahun 2020, di mana Presiden Trump mengatakan bahwa hasil Pemilu Sela merupakan kemenangan besar.

Pemilu Sela adalah pemilu khusus yang diadakan untuk mengisi jabatan politik yang kosong di antara masa pemilihan umum.

Sebelumnya kursi pemerintahan, DPR dan Senat mayoritas diisi oleh anggota partai Republik. Namun hasil penghitungan suara cepat telah menunjukkan bahwa suara partai Demokrat mengungguli suara partai Republik dalam perebutan kursi DPR.

Hasil ini merupakan kemenangan partai Demokrat karena selama 8 tahun sebelumnya suara untuk DPR selalu dimenangkan oleh partai Republik. Namun untuk suara perolehan Senat, Partai Republik mengungguli Partai Demokrat.

Peta politik AS dapat menjadi terbelah di mana suara DPR dimenangkan oleh Partai Demokrat, dan Senat dimenangkan oleh partai Republik, dikhawatirkan polarisasi akan semakin besar.

Apalagi Donald Trump sebelumnya menyebutkan bahwa partai Demokrat adalah partai sosialis berbahaya dalam persiapan menuju Pemilu Sela.

Karena itu, Donald Trump tampaknya akan mendapatkan banyak tantangan dalam sejumlah kebijakan yang memerlukan persetujuan kongres.

Situasi ini juga akan memaksa Trump lebih banyak berkompromi dengan pihak oposisi dalam berbagai kebijakan dalam negeri, karena ia perlu persetujuan DPR.

Sebelumnya Trump lebih sering memilih jalan konfrontasi dari pada kompromi. Namun Jika jalan konfrontasi dilakukan, ini akan berisiko menambah masalah internal negara AS.

Jika menengok ke masa pemerintahan Obama sebelumnya, DPR yang dikuasai oleh partai Republik dalam pembahasan APBN AS berkali-kali terhambat sehingga tidak ada dana bagi aktivitas Pemerintahan, yang berakibat pada beberapa kali pemerintahan Federal AS lumpuh.

Saat ini yang kondisinya serupa, bukan tidak mungkin kejadian tersebut akan terulang, mengingat mayoritas kursi DPR akan diisi oleh partai oposisi.

Demokrat yang menguasai DPR juga bisa menghambat sejumlah rencana Trump seperti pembangunan tembok perbatasan di Meksiko, dan penghapusan jaminan kesehatan atau yang dikenal dengan Obamacare.

Fokus partai Demokrat nantinya adalah kepada agenda-agenda konservatif Trump, selain berupaya menjegal agenda-agenda tersebut, Demokrat juga akan berusaha menjaga peluang memenangi Pemilihan Presiden pada tahun 2020 dengan mengimbangi retorika Trump, yang di mana retorika ini akan gencar dilakukan menjelang Pemilihan Presiden 2020.

Demokrat akan membuat Trump dan Partai Republik bekerja lebih keras untuk mewujudkan agendanya. Bahkan, dengan suara mayoritas di DPR, Demokrat dapat mengusulkan penyelidikan terhadap dugaan penyalahgunan jabatan Presiden untuk bisnis keluarganya seperti di beberapa negara antara lain di Arab Saudi, Rusia, dan China.

Tidak Puas

Hasil Pemilu Sela juga memperlihatkan bagaimana rakyat AS menilai kepemimpinan Donald Trump dan menentukan peluangnya pada Pemilu 2020.

Peluang Donald Trump dalam Pemilihan Presiden tahun 2020 tampaknya dilihat tidak mudah dalam perjalanannya, melihat perolehan kursi DPR yang saat ini dimenangkan oleh Demokrat.

Berbeda dengan Senat yang mewakili negara bagian, DPR yang mewakili distrik cenderung lebih dekat dengan para pemilik suara.

Kemenangan partai Demokrat dipandang sebagai pernyataan ketidakpuasan terhadap Trump. Warga AS yang dikenal selama ini kurang peduli dengan Pemilu Sela, tahun ini antusias dalam mengikuti Pemilu Sela.

Pemilu Sela tahun ini mendapat perhatian besar masyarakat AS dan memecahkan rekor tingkat partisipasi.

Hal ini terlihat dari jumlah pemungutan suara pemilih dini yang tercatat adalah 36,4 juta suara, sedangkan pada tahun 2014, jumlah pemilih dini adalah 24 juta suara.

Menurut VoteCast, hampir 40 persen pemilih tahun ini menyatakan menggunakan hak pilihnya untuk mengekspresikan penolakan terhadap Trump.

Ketidakpuasan juga tergambar dari hasil pemilihan Gubernur. Wakil dari Partai Demokrat berhasil memenangi pemilu di negara bagian Nevada, New Mexico, Wisconsin, Kansas, Illinois, dan Michigan.

Di sisi lain, dengan hasil Pemilu Sela, Presiden Donald Trump justru mengatakan bahwa hasil Pemilu Sela adalah kemenangan besar.

Ia memuji hasil dari Pemilu Sela meskipun Partai Republik harus menyerahkan mayoritas kursi DPR-nya kepada partai Demokrat.

Juru bicara Gedung Putih menambahkan, kemenangan Republik di Senat merupakan kemenangan besar bagi Presiden. Ia melihat kemenangan Republik di Senat dapat membendung pengaruh Demokrat di Kongres.

Donald Trump juga mengatakan jika DPR yang mayoritas merupakan fraksi Demokrat mengusulkan penyelidikan terhadap dugaan penyalahgunan jabatan Presiden untuk bisnis keluarganya, maka akan ditandingi dengan penyelidikan oleh fraksi Partai Republik di Senat terhadap Demokrat.

Situasi ini justru akan semakin memperkeruh suasana politik dan pemerintahan AS yang dapat berujung pada mandeknya jalan pemerintahan AS dan dapat mempengaruhi kondisi dalam negeri AS.

Keadaan pemerintahan dan politik AS akan terus memanas jika masing-masing pihak terus menyerang. Jika ini terus terjadi, maka polarisasi akan semakin parah dan akan menyebabkan perpecahan di dalam negeri AS itu sendiri.

*) Penulis adalah Direktur Pengkajian Ideologi dan Politik Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI


Baca juga: Pertemuan Trump dan Xi Jinping tentukan pergerakan rupiah
Baca juga: RI tolak bantuan tentara AS untuk Palu

 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar