BI sebut defisit transaksi berjalan meningkat akibat impor minyak

BI sebut defisit transaksi berjalan meningkat akibat impor minyak

Bank Indonesia. (ANTARA/Ferliansyah)

Defisit neraca transaksi berjalan secara akumulatif sebesar 2,86 persen PDB
Jakarta (ANTARA News) - Bank Indonesia mengungkapkan defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal III 2018 meningkat menjadi 3,37 persen dari PDB atau sebesar 8,8 miliar dolar AS di antaranya karena kenaikan nilai impor minyak.

"Peningkatan defisit neraca perdagangan migas terjadi seiring dengan meningkatnya impor minyak di tengah naiknya harga minyak dunia," tulis pernyataan resmi Bank Indonesia (BI) mengenai kinerja transaksi berjalan kuartal III 2018 di Jakarta, Jumat.

Neraca transaksi berjalan yang terdiri dari neraca perdagangan dan jasa, merupakan parameter yang merekam transaksi pembayaran antara penduduk Indonesia dengan nonpenduduk Indonesia. 

Oleh karena itu, neraca transaksi berjalan mencerminkan aliran devisa yang keluar dan masuk suatu negara, sehingga parameter ini juga menjadi pijakan investor untuk berinvestasi di suatu negara dan menentukan pergerakan nilai tukar mata uang.

Menurut statistik yang dilansir Bank Sentral pada Jumat ini dan menjadi pusat perhatian investor, meskipun pada paruh ketiga ini defisit meningkat, namun jika melihat dari awal tahun hingga akhir kuartal III 2018, defisit neraca transaksi berjalan secara akumulatif sebesar 2,86 persen PDB. Angka itu, menurut BI, masih berada dalam batas aman.

Menurut Bank Sentral, defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang meningkat pada kuartal III 2018 karena memburuknya kinerja neraca perdagangan barang dan meningkatnya defisit neraca jasa.

Pada kuartal II 2018, defisit transaksi berjalan sebesar 8,0 miliar dolar AS atau 3,02 persen PDB.

Adapun neraca perdagangan barang mencakup sektor migas dan nonmigas. Defisit perdagangan migas meningkat, sementara peningkatan surplus neraca perdagangan barang nonmigas relatif terbatas karena masih tingginya impor.

Permintaan impor yang tinggi di sektor nonmigas juga disebabkan konsumsi domestik yang menggeliat.

Sementara itu, menurut BI, peningkatan defisit neraca perdagangan migas terjadi seiring dengan meningkatnya nilai impor minyak karena harga minyak dunia yang menanjak.

Selain itu, penyumbang defisit neraca transaksi berjalan juga karena melebarnya defisit neraca jasa, khususnya jasa transportasi.

Hal itu karena peningkatan impor barang yang tentunya meningkatkan permintaan pengangkutan (shipping) ke domestik, dan juga pelaksanaan kegiatan ibadah haji. 

Namun, defisit transaksi berjalan berhasil dicegah untuk semakin melebar karena ekspor produk manufaktur dan kenaikan surplus jasa perjalanan dari sektor pariwisata.  

Hal itu karena meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara, antara lain untuk menyaksikan penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang.

Neraca transaksi berjalan merupakan bagian dari Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Rapor NPI tidak buruk karena neraca transaksi modal dan finansial pada kuartal III 2018 masih surplus 4,2 miliar dolar AS.

Namun, surplus transaksi modal dan finansial tersebut belum cukup untuk membiayai defisit transaksi berjalan, sehingga NPI pada triwulan III 2018 defisit sebesar 4,4 miliar dolar.

Baca juga: Menko Darmin prediksi defisit transaksi berjalan bakal melebar
Baca juga: Kurangi impor minyak solusi tepat atasi defisit anggaran
 

Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar