counter

Artikel

Desa wisata berkualitas kelolaan penduduk lokal

Desa wisata berkualitas kelolaan penduduk lokal

Pojok swafoto Desa Wisata Serang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. (Foto: Dokumentasi Desa Wisata Serang)

Dengan demikian masyarakat akan memiliki kepedulian untuk menjaga keberlanjutan lingkungan serta memahami benar beberapa aspek sosial budaya yang ada di desanya.
Angin bertiup pelan di lokasi wisata taman bunga, Serang Garden di Desa Wisata Serang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Matahari masih bersinar terang, namun tanda-tanda akan datangnya hujan mulai tampak. Hawa dingin mulai merayap.

Kendati demikian, ada beberapa ekor kupu-kupu yang masih sibuk mengisapi sari bunga, belum mau beranjak meski awan hitam mulai bergelayut.

Pada saat itu, romantisme makin terasa, utamanya di tengah jalan setapak yang sedikit berkelok, dengan jejeran berbagai jenis bunga warna-warni di sisi kanan dan kiri.

Dari situ, akan terlihat panorama yang sangat indah. Selain taman bunga, pengunjung bisa melihat kebun sayur di sekitar lokasi wisata, juga terlihat Gunung Slamet yang berselimut kabut.

Serang Garden merupakan objek wisata baru yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari lokasi wisata petik stroberi. Keduanya merupakan bagian dari Desa Wisata Serang, yang memiliki sederet objek menarik.

Kepala Desa Serang Sugito mengatakan, objek wisata baru itu mulai diluncurkan sejak tanggal 28 Oktober 2018.

Dia juga mengatakan, peluncuran objek baru Serang Garden bertujuan untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke desa wisata tersebut.

Pihaknya ingin memanjakan pengunjung yang menyukai aktivitas swafoto, khususnya swafoto di tengah hamparan bunga.

Dia menambahkan, dengan membeli tiket masuk seharga Rp5.000, pengunjung dapat masuk ke Serang Garden dan menikmati wisata alam yang sangat indah dan menarik untuk diunggah ke media sosial.

Dia juga menambahkan, pihaknya terus berupaya mengembangkan Desa Wisata Serang, dengan menambah wahana-wahana baru, dengan konsep yang menarik, dan berkualitas.

Terlebih lagi, objek wisata yang ada di Desa Wisata Serang, sebagian besar dikelola oleh penduduk lokal yang ada di sekitar objek wisata.

"Kami berharap penambahan destinasi akan ikut meningkatkan sektor ekonomi lokal bagi warga setempat," katanya.

Sektor pariwisata telah menumbuhkan perekonomian warga sekitar.

Kesadaran masyarakat di Desa Serang akan manfaat pariwisata sudah mulai dirasakan. Kesadaran yang meningkat itu akhirnya membuat warga menggali potensi yang ada untuk objek wisata baru.

Desa Serang pada saat ini memang menjadi salah satu tujuan wisata yang sangat potensial.

Desa wisata yang berada di kaki Gunung Slamet tersebut memiliki suasana yang indah, mulai dari pepohonan hijau, hamparan bunga hingga kebun-kebun stroberi.

Pada saat ini, banyak pilihan objek wisata di Desa Serang yang bisa dijelajahi oleh para pengunjung, mulai dari Kampung Kurcaci, Lembah Asri, Pudangmas, Bukit Sikopyah hingga Gardu Pandang Gunungmalang.



Konsep Berkualitas

Berbicara tentang desa wisata, pengamat pariwisata dari Universitas Jenderal Soedirman Chusmeru mengatakan pengembangan desa wisata merupakan salah satu upaya strategis untuk memajukan sektor pariwisata di suatu daerah.

Ditambah lagi, desa wisata sangat potensial untuk terus dikembangkan mengingat tren wisata dunia Tahun 2018, adalah pada sesuatu yang baru, yang unik, dan natural.

Dia mengatakan, keunggulan desa wisata biasanya terletak pada berbagai hal, salah satunya pemandangan alam yang indah.

Selain itu, keanekaragaman flora dan fauna, potensi seni dan budaya, kehidupan sosial ekonominya, serta kekhasan kulinernya.

Tanpa itu semua, menurut dia, desa wisata akan sulit untuk memiliki daya tarik.

Kendati demikian, semua potensi itu juga tidak mungkin dapat ditawarkan di pasar wisata jika tidak dikelola dengan manajemen kepariwisataan yang profesional.

Desa wisata, menurut Chusmeru, perlu menjadi bagian dari paket wisata yang menawarkan objek utama.

Selain itu, kata dia, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengembangan desa wisata, salah satunya aksesibilitas yang menjadi faktor penting dalam pengembangan desa wisata.

Selain itu, perlu juga memperhatikan daya dukung desa wisata dalam menerima kunjungan wisatawan. Jangan sampai membeludaknya wisatawan ke suatu desa justru akan mengakibatkan kerusakan ekosistem yang ada.

Oleh sebab itu, desa wisata tidak tepat jika dikembangkan dengan konsep pariwisata massal. Desa wisata haruslah dikembangkan dengan konsep pariwisata berkualitas.

Selain itu, diperlukan pelibatan masyakarat dalam pengelolaan desa wisata, baik dalam penyusunan konsep maupun teknis operasional desa wisata.

"Dengan demikian masyarakat akan memiliki kepedulian untuk menjaga keberlanjutan lingkungan serta memahami benar beberapa aspek sosial budaya yang ada di desanya," katanya.

Selain itu, manfaat ekonomi harus benar-benar dirasakan mayarakat serta dapat meningkatkan pendapatan asli desa dan kesejahteraan masyarakat.

Manfaat ekonomi itu sekaligus diharapkan dapat membantu proses pelestarian seni budaya.

Selain itu, perlu regulasi yang mengatur pengembangan desa wisata, baik berupa peraturan daerah maupun peraturan desa.

Regulasi itu dibutuhkan untuk menjaga kelestarian alam, seni budaya, tradisi, serta masalah investasi di desa.

Selain itu, perlu menambah nilai manfaat desa wisata. Nilai manfaat itu bukan hanya untuk wisatawan tapi juga untuk masyarakat.

"Misalkan saja Serang Garden, destinasi tersebut memiliki konsep yang menarik dan layak untuk dikembangkan dengan konsep ekowisata dan eduwisata," katanya.

Konsep tersebut merupakan konsep desa wisata yang memberi manfaat kepada wisatawan dan sekaligus kepada masyarakat untuk ikut terlibat dalam pelestarian lingkungan yang akan menjadikan Serang Garden sebagai objek wisata yang indah dan menarik sekaligus sebagai tempat untuk belajar tentang keaneragaman hayati.*


Baca juga: Pengamat sebut desa wisata dorong pengembangan UMKM

Baca juga: Banyuwangi dorong pengembangan desa wisata gantikan pembangunan hotel

Baca juga: Bengkulu Selatan kembangkan desa wisata


 

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar