AI untuk dunia kesehatan, permudah klaim asuransi hingga beli obat

AI untuk dunia kesehatan, permudah klaim asuransi hingga beli obat

VP Products of Halodoc, Alfonsius P.Timboel (kiri) dan GM Medlinx, Timur Bawono dalam sebuah acara bertajuk "AI for Intelligent Digital Transformation" di Jakarta, Rabu (5/12/2018) (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

Jakarta (ANTARA News) - Pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) kini sudah mencakupi sejumlah industri di tanah air, salah satunya kesehatan. 

GM Medlinx, Timur Bawono di Jakarta, Rabu mengatakan dengan memanfaatkan AI, perusahaannya mempermudah sistem klaim asuransi kliennya. 

"Para peserta asuransi bisa melakukan klaim dari rumah sakit langsung ke asuransi. Bisa melihat result-nya langsung," kata dia.

Menurut Timur, peranan AI juga mencakup analisa data. Pelaku industri kesehatan bisa memanfaatkan data untuk mendapatkan wawasan yang bisa membantu perkembangan bisnis mereka. 

"Mereka bisa mendapatkan insight yang bisa membantu perkembangan bisnis mereka. Misalnya kapan waktu yang tepat untuk menambah kapasitas tempat tidur (rumah sakit), kapan harus hire orang. Data-data yang ada di database rumah sakit itu valuable asset," tutur dia. 

Dalam kesempatan itu, VP Products of Halodoc, Alfonsius P.Timboel mengungkapkan pemanfaatan AI bisa terwujud dalam pemesanan obat secara online dan mengirimkannya pada pemesan. 

"Chatbox merupakan bentuk transformasi produk. Kami mulai investasikan platform teknologi yang berbeda, misalnya agar kualiatas konsultasi dengan dokter lebih baik, pengantaran obat. Pengguna kami 90 persen menggunakan fitur konsultasi dokter dan pharmacy delivery," ujar dia. 

Hanya saja, teknologi AI sudah sedemikian berkembang di Indonesia, terbentur sejumlah hal. Untuk kasus Halodoc misalnya, belum adanya database obat yang terstandarisasi adalah salah satunya. 

"Di Indonesia, tidak punya database obat terstandarisasi. Itu salah satu challange terbesar. Kalau nantinya semua sudah siap, tinggal tingkatkan kualitas dan manjemen agar produk lebih baik," kata Alfonsius. 

Di sisi lain, menurut Timur, belum meratanya penentu kebijakan di Indonesia yang memanfaatkan AI menjadi masalah terbesar saat ini. Oleh karenanya, industri kesehatan di tanah air belum semaju di negara lain dan inilah tantangan bagi perusahannya. 

"Sebenarnya masalah mindset. Stakeholder kebanyakan menerapkan conventional ways. Ketika kami meluncurkan produk (9 tahun lalu) ternyata use rate-nya tidak tinggi. Untuk AI, bagaimana kami memberikan edukasi agar mindset mereka AI itu bisa berperan untuk bisnis," papar dia. 

Baca juga: Kata.ai luncurkan inovasi AI terbaru

Baca juga: Google gelontorkan 25 juta dolar dana hibah AI

Baca juga: Lukisan buatan artificial intelligence terjual Rp6,5 miliar di Christie's

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2018

BPPT haruslah menjadi pusat kecerdasan teknologi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar