MPR Sosialisasi Empat Pilar lewat wayang kulit dan orang di Jepara

MPR Sosialisasi Empat Pilar lewat wayang kulit dan orang di Jepara

Kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR metode pagelaran seni budaya, Senin malam di halaman Kantor Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, dikemas dalam bentuk lain dari biasanya. (Humas Pers MPR)

Jakarta (ANTARA News) - MPR melakukan sosialisasi Empat Pilar menggunakan metode pagelaran seni budaya pada Senin malam (10/12) di halaman Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Sosialisasi itu dikemas dalam suatu eksperiman, yang mengolaborasikan dua kesenian tradisonal Jawa, yakni wayang kulit dan wayang wong atau orang dalam satu panggung dengan membawakan satu lakon cerita serta dibawakan oleh satu dalang.

Ide kolaborasi acara sosialisasi dan pagelarang wayang itu datang dari anggota MPR Kelompok DPD, Dr Bambang Sadono. Ia yang merupakan seorang penggemar wayang, berkehendak menghadirkan sesuatu yang berbeda dalam melakukan Sosialisasi Empat Pilar MPR di Jepara ini. 

Sebelumnya, ia pernah menghadirkan pertunjukan wayang kulit dengan dua dalang dalam satu lakon cerita tetapi kali ini ia lebih memilih kolaborasi wayang kulit dan wayang orang. Kolaborasi dua jenis kesenian ini membawakan lakon ‘Sumpah Setyaki'

Acara tersebut digelar berkat kerja sama Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Jepara dan masukan dari Setjen MPR Bambang Sandono.

Sandono selaku pelaksana kegiatan ini menghadirkan grup wayang kulit dari Rembang dengan dalan Ki Sigit Ariyanto. Sedangkan para pemain wayang orang dipilih mahasiswa seni tari dari Universitas Negeri Semarang (UNES), yang di bawa binaan Restu Lanjari, dosen seni tari UNES yang juga adalah istri dari Bambang Sandono.

Atas nama pimpinan MPR, Bambang Sadono secara resmi membuka pagelaran seni budaya tersebut dengan penyerahan tokoh wayang (Setyaki kepada dalang Ki Sigit Ariyanto.

Sosialisasi tersebut dihadiri oleh Kepala Biro Humas Setjen MPR Siti Fauziah, Kepala Bagian Pemberitaan, Hubungan Antarlembaga dan Layanan Informasi Biro Humas Muhamad Jaya, Ketua PWRI Jepara HM. Suharno, Forkompimda Kab. Jepara Camat Jepara Muhamad Syafi’I, beserta Forkompimda Kecamatan Jepara dan tokoh masyarakat, agama serta ratusan masyarakat setempat.

Pagelaran itu memotongan cerita dalam wayang kulit dipadupadankan dengan wayang orang agar jalan cerita berjalan lancar, dan menyatu, kata Bambang dalam sambutannya saat menjelaskan sekilas mengenai kolaborasi tersebut.

Para mahasiswa membutuhkan waktu empat hari latihan tanpa diiringi dalang, dan sekali diiringi dalang beberapa saat sebelum pementasan dilaksanakan.

Menurut Bambang, yang pernah menjabat sebagai Ketua Badan Pengkajian MPR, pagelaran seni budaya wayang adalah sarana paling cocok untuk sosialisasi Empat Pilar di kalangan masyarakat Jawa Tengah. Selain memang digemari, wayang termasuk seni yang memasyarakat dan ceritanya mudah dicerna.

Berdasarkan hal itu, Bambang Sadono mengusulkan agar jumlah (kuota) pementasan seni budaya di Jawa Tengah ditambah lagi di masa mendatang.

"Lakon 'Sumpah Setyaki' sengaja dipilih karena karakter tokoh ini sangat sejalan dengan nilai-nilai Empat Pilar. Bambang menjelaskan bahwa Setyaki adalah sosok pejuang yang ikhlas, luar biasa dan pahlawan yang sama sekali tidak punya kasus meski memiliki tubuh kecil dan berkulit hitam."

"Setyaki berjuang membela pemimpinnya tanpa diperintahkan dan menjadi simbol seorang yang ikhlas berjuang," katanya.

Sementara Kepala Biro Humas Setjen MPR, Siti Fauziah selaku panitia pelaksana dalam laporannya menyatakan, ia sangat menghargai upaya Bambang Sadono dalam ikut melestarikan seni budaya tradisional Jawa, khususnya wayang.

Menurut Siti Fauziah, upaya menggabungkan seni wayang kulit dan wayang orang merupakan bukti bahwa Bambang Sadono adalah pencinta seni Jawa dan MPR menetapkan seni budaya sebagai salah satu metode sosialisasi.

Selain melalui seni budaya, dalam melakukan Sosialisasi Empat Pilar, MPR juga menggunakan berbagai cara ntara lain ToT, FGD, seminar dan lomba cerdas cermat (LCC).

Pemilihan MPR menggunakan pagelaran seni budaya dalam sosialisasi Empat Pilar mereka adalah salah satu upaya MPR menjaga seni budaya tradisional agar tidak punah. Mengingat arus budaya dari luar sangat memengaruhi kehidupan anak-anak sekarang.

“Kalau kita kurang hati-hati, seni budaya leluhur kita bisa punah. Karenanya perlu dilestarikan,” katanya.

“Saya berharap apa yang disampaikan dalang pada malam ini bisa dihayati dan dimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Siti Fauziah mengakhiri laporannya.

Harapan serupa juga disampaikan oleh Bupati Jepara H. Marzuki melalui sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Camat Jepara, Muhamad Syafi’I.

Bupati berharap, melalui sosialisasi ini, nilai-nilai Empat Pilar benar-benar dapat merasuk  ke dalam jiwa masyarakat Jepara. Serta teraktualisasi secara baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pemerintah Kabupaten Jepara juga menyampaikan apresiasi dan menyambut baik kerja sama antara PWRI Kabupaten Jepara dan Setjen MPR dalam penyelenggaraan sosialisasi Empat Pilar ini. 

“Karena pada dasarnya Empat Pilar Kebangsaan yang terdiri Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, sangat penting untuk dipahami dan dimengerti secara benar oleh seluruh warga negara Repulik Indonesia, khususnya masyarakat Jepara,” katanya.

Baca juga: MPR: Perpecahan dan korupsi tantangan terbesar bangsa

Pewarta: Hendri Indrawan
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Cetak pengukir profesional melalui pendidikan formal

Komentar