counter

Ada kecenderungan orangtua beri anak makanan pabrikan

Ada kecenderungan orangtua beri anak makanan pabrikan

Salah satu warga menunjukkan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang dibagikan pada pencanangan Gerakan Masyarakat Sehat (Gemas) di Puskesmas Punti Kayu Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (14/3/2017). (ANTARA FIOTO/Feny Selly)

Jakarta (ANTARA News) - Kepraktisan menjadi salah satu hal yang banyak orang cari di masa kini, apalagi jika waktu luang yang tersedia terbatas dan ini diakui Nutrition Program Manager Helen Keller International (HKI) di Indonesia, dr. Dian N. Hadihardjono, MSc.

Bahkan dalam memberi makan pada anak pun tidak luput dari kepraktisan. Mengejar praktis, sebagian orangtua memanfaatkan makanan pabrikan untuk diberikan pada anak-anak mereka. Apalagi jika makanan ini menyediakan komposisi gizi yang anak butuhkan.

Bolehkah para orangtua semata bergantung pada makanan pabrikan untuk makanan anak mereka?

"Kita hidup di era waktu semakin sempit, kepraktisan salah satu solusi. Tetapi, sebagai orangtua harus memperkuat diri. Kita punya anak bukan hanya periode anak-anak tetapi untuk jangka panjang," kata Dian di Jakarta, Selasa.

"Seharusnya semua orangtua melengkapi informasi, makan bukan hanya sekedar kenyang. Harusnya lebih punya usaha mencari tahu agar yang kita berikan yang terbaik untuk anak," sambung dia.
n
Sebuah studi yang Dian dan tim lakukan tahun ini di kota Bandung menunjukkan pemberian makanan pabrikan menjadi salah satu penyebab anak-anak kurang mendapatkan makanan yang beragam, terpapar makana dan minuman berpemanis.

Temuan juga memperlihatkan hanya sedikit anak-anak yang menyantap sayuran berwarna kuning/jingga (45,1 persen dari 594 ibu), buah-buahan (42,4 persen) yang diperlukan tubuh.

Sementara konsumsi makanan pabrikan justru tinggii dan sangat sering yakni 81,6 persen.

"Anak usia di atas 6 bulan terpapar kandungan gula dari makanan ringan dan minuman berpemanis yang bukan diproduksi untuk batita," kata Dian.

"Produk makanan ringan buatan pabrik umumnya tinggi kandungan gula dan garam serta rendah zat gizi," imbuh dia.

Dian mengatakan, demi memperbaiki praktik pemberian makanan bayi supaya sesuai rekomendasi, tim-nya mulai advokasi penyebaran informasi penelitian ini.

"Dari tingkat kota bersama dinas kesehatan kami mungkin akan menggandeng pemerintah kota dulu untuk merencanakan apa yang bisa dilakukan di kota Bandung untuk memperbaiki. Untuk tingkat nasional, kami baru berkoordinasi, baru diseminasi seperti ini," papar dia.

"Yang sudah kami lakukan setelah penelitian ini adalah membuat media edukasi yang tersedia di sosial media. Materi yang tersedia bisa diakses masyarakat," sambung Dian.

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Memberikan hak bayi akan ASI

Komentar