counter

Korban bom di Surabaya rayakan Natal dengan damai

Korban bom di Surabaya rayakan Natal dengan damai

Dokumentasi - Sejumlah jemaat dan kerabat mengangkat peti jenazah korban teror bom, Aloysius Bayu Rendra Wardhana, seusai misa arwah peringatan martir di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (23/5/2018). (ANTARA/M Risyal Hidayat)

Surabaya (ANTARA News) - Umat Nasrani yang menjadi korban dalam serangan bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur, 13 Mei lalu, merayakan Natal dengan damai dan penuh pengampunan, kata pastor di Gereja Santa Maria Tak Bercela Surabaya, Selasa.

Pastor Rekan Gereja Santa Maria Tak Bercela Surabaya Aloysius Widiyawan memastikan pemulihan trauma atas tragedi bom bunuh diri yang terjadi pada tanggal 13 Mei 2018 terhadap segenap jemaatnya telah berjalan cukup baik.

"Banyak elemen masyarakat dan tokoh dari lintas agama yang telah membantu pemulihan selama 7 bulan terakhir. Syukur Tuhan semuanya berjalan dengan baik," katanya.

Gereja Santa Maria Tak Bercela adalah salah satu dari tiga gereja di Surabaya yang diserang teror bom bunuh diri pada tanggal 13 Mei lalu.

Serangan teror bom kemudian berlanjut dengan ledakan di sebuah rusun di Sidoarjo pada malam harinya, serta di Markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya pada keesokan harinya, 14 Mei.

Serangan itu seluruhnya menewaskan 13 pelaku. Sedangkan dari kalangan warga sipil terdata 14 korban tewas, selain 42 lainnya mengalami luka-luka.

Pastor Widiyawan memastikan sejumlah jemaatnya yang turut menjadi korban luka-luka saat serangan bom terjadi, sejak tadi malam turut mengikuti misa Natal di Gereja Santa Maria Tak Bercela Surabaya.

"Keluarga Bayu, salah satu korban yang meninggal dunia dari jemaat di gereja kami, mengikuti misa Natal pagi ini," katanya.

Misa Natal di Gereja Santa Maria Tak Bercela Surabaya berlangsung bertahap sejak tadi malam dan dijadwalkan terus berlangsung hingga pukul 12.00 WIB.

"Tema Natal di gereja kami adalah `Merayakan Kelahiran Kasih yang Berkorban dan Menyatukan`. Sesuai dengan tema itu, kalau dahulu kami dibom dengan kebencian, sekarang adalah saatnya kami membalasnya dengan kasih dan pengampunan," tuturnya.

Pewarta: Slamet Agus Sudarmojo/Hanif Nashrullah
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar