counter

Jawa Barat-Korea kerja sama dirikan sekolah kopi internasional

Jawa Barat-Korea kerja sama dirikan sekolah kopi internasional

Ilustrasi: Petani memetik biji kopi arabika di perkebunan kopi Desa Nyalindung, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (15/3/2018). Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) memperkirakan ekspor kopi pada 2018 akan mencapai 420.000 ton hingga 450.000 ton, atau naik sekitar 15-18 persen daripada tahun lalu. (ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

Ada dua yang mau dikawinkan, yaitu promosi kopi Jawa Barat ke dunia dan promosi pariwisata
Bandung (ANTARA News) - Pemerintah Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Korea mendirikan sekolah kopi internasional untuk mendukung promosi kopi agar semakin mendunia, sekaligus promosi pariwisata.

Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil di Bandung, Sabtu, mengatakan, sekolah ini akan berdiri di daerah pegunungan Jawa Barat karena di samping memberikan edukasi tentang kopi, sekolah kopi itu diharapkan bisa menjadi sarana promosi keindahan alam Jawa Barat kepada dunia.

"Ada dua yang mau dikawinkan, yaitu promosi kopi Jawa Barat ke dunia dan promosi pariwisata," kata Emil sapaan akrab Ridwan Kamil.

Dia mengatakan kemarin pihaknya melakukan pertemuan dengan Mr Dong Cheol Yoon, Presiden Universitas Sung Kyul dari Korea Selatan yang juga perwakilan International Coffee Association di Gedung Pakuan, Jalan Otto Iskandardinata No1, Kota Bandung.

"Salah satu yang paling siap adalah sekolah internasional kopi dengan networking dari Korea. Karena orang Korea ini penggila kopi Asia yang indeksnya salah satu yang paling tinggi," lanjutnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan mencari tiga lokasi pegunungan dengan pemandangan alam menarik sebagai lokasi sekolah ini.

Gubernur Ridwan Kamil berharap melalui sekolah kopi ini akan meningkatkan kualitas kopi Jawa Barat sekaligus mendorong ekonomi masyarakat.

"Mudah-mudahan ini akan memperkuat kualitas perkopian kita. Jadi, ekonomi maju, brand kopi maju, pariwisata maju, dan Korea ternyata yang paling dulu, sehingga mudah-mudahan dalam enam bulan kita bisa resmikan sekolah kopi itu," ujar Emil.

Menurut Emil, apabila kopi Jawa Barat mendapat semakin banyak apresiasi dari dunia, secara tidak langsung hal itu akan menjadi sarana promosi dengan begitu produksi kopi asli Jawa Barat akan meningkat.

"Sehingga nanti pesanan kopi semakin banyak dan pengetahuan kopi lokal juga semakin bagus, jadi kopinya semakin luar biasa," kata Emil.

Dia menambahkan, pihaknya sengaja mengajak Korea untuk mendirikan sekolah kopi ini di Jawa Barat dengan harapan di Korea akan ada gerai atau kafe khusus yang menjajakan kopi asal Jawa Barat.

"Saya izinkan membuat sekolah itu sambil ada kewajiban mereka membuat kafe di Korea Selatan dengan 100 persen kopi Jawa Barat. Kalau ini tercapai, Insya Allah promosi pariwisata dapat, pengetahuan dapat, dan lain sebagainya," katanya.

Sebagai salah satu negara yang memiliki pecinta kopi tertinggi di Asia, Korea memberikan kritik terhadap cita rasa kopi Jawa Barat.

Dia mengatakan menurut orang Korea petani kopi Indonesia masih keliru dalam mencampur biji kopi yang sudah matang dengan biji kopi yang masih mentah, dan hal ini menimbulkan rasa yang tidak seragam.

"Dari sisi waktu memetik sampai dijemur dan jadi green bean ternyata masih banyak kekeliruan, salah satunya yang ditemukan adalah petani masih memetik yang sudah matang dan tidak matang dicampur, sehingga rasanya tidak seragam. Ada enak di awal, kecut di akhir. Kira-kira begitu.

"Tapi kalau dari (proses) green bean sampai roasting dan lain-lainnya itu dianggap sudah baik," katanya.

Baca juga: Jawa Barat miliki sekolah kopi pertama di Indonesia



 

Pewarta:
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar