counter

Aliansi Kebhinnekaan ajak masyarakat Solo bebas intimidasi

Aliansi Kebhinnekaan ajak masyarakat Solo bebas intimidasi

Sejumlah wisatawan mengunjungi Kampung China di Cibubur, Bogor, Jawa Barat, Minggu (3/2/2019).  Kampung China merupakan salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal jelang tahun baru Imlek. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/foc.

Tujuannya kami ingin membangun Bhinneka Tunggal Ika sesuai dengan apa yang dikendaki pendiri bangsa
Solo  (ANTARA News) - Aliansi Masyarakat Solo Bhinneka Tunggal Ika mengajak masyarakat Solo bebas intimidasi dan sikap intoleransi dengan memberikan pernyataan sikap terkait isu perayaan Imlek.

"Tujuannya kami ingin membangun Bhinneka Tunggal Ika sesuai dengan apa yang dikendaki pendiri bangsa," kata Ketua Koordinator Aliansi Masyarakat Solo Bhinneka Tunggal Ika Hermanu Joebagio di sela audiensi dengan Wali Kota Surakarta di Balai Kota Surakarta, Senin.

Pakar Sejarah Islam Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tersebut mengatakan tanpa adanya kebhinnekaan maka Indonesia akan tercerai-berai dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sulit diwujudkan.

Ia mengatakan ada 25 aliansi yang tergabung untuk mendukung kebhinnekaan tersebut, di antaranya HMI Cabang Surakarta, Forum Pemuda Lintas Agama, Pusat Kajian dan Pengembangan Pesantren Nusantara IAIN Surakarta, serta PC NU Surakarta.

Pada audiensi tersebut, pihaknya memberikan pernyataan sikap di antaranya menghormati kebebasan individu dan kelompok untuk merayakan peringatan hari besar sesuai agama masing-masing, mendukung pemerintah kota mengakomodasi dan memberikan ruang yang memadai bagi setiap kegiatan keagamaan untuk memperat nilai kebangsaan dan kemajemukan.

"Ini era milenial, masyarakat lebih dinamis, bermartabat, dan berkemajemukan. Dalam hal ini, perayaan Imlek tidak ada larangan karena justru menggambarkan kebhinnekaan," katanya.

Ia mengatakan tidak mungkin mewujudkan Solo bersyariah karena pendiri bangsa menyadari bahwa Indonesia tidak terdiri dari satu agama.

"Dalam sejarah, Indonesia dibangun dalam multikultur sehingga kebhinnekaan tetap harus diwujudkan," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo mengatakan dengan adanya tahun politik ini, situasi Solo yang sebelumnya kondusif sudah? berubah. Oleh karena itu, ia mengapresiasi dukungan yang diberikan oleh Aliansi Masyarakat Solo Bhinneka Tunggal Ika kepada Pemerintah Kota Surakarta.

"Kami jajaran Pemkot Surakarta berupaya merawat kebhinnekaan atau kemajemukan di daerah ini. Dengan adanya dukungan ini tentunya Solo akan menjadi kota yang makin layak dihuni," katanya.

Sebelumnya, sekelompok orang yang mengatasnamakan Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) protes terhadap pemasangan lampion di sekitar Pasar Gede. Humas LUIS Endro Sudarsono mengatakan pemasangan ornamen untuk perayaan Imlek tersebut berlebihan.

Baca juga: Masjid Cheng Ho Surabaya rayakan 16 tahun kebinekaan
Baca juga: Rektor Unsoed ajak masyarakat junjung kebinekaan

 

Pewarta: Aries Wasita Widi Astuti
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Merajut kebinekaan dengan gowes onthel

Komentar