counter

Harga minyak naik di Asia, Brent di 61.69 dolar per barel

Harga minyak naik di Asia, Brent di 61.69 dolar per barel

Rig Maera, South Tunu, Blok Mahakam, Kalimantan Timur. (ANTARA/Indrianto Eko Suwarso)

Pasar semakin ketat di tengah pengurangan produksi sukarela yang dipimpin OPEC dan karena sanksi-sanksi AS terhadap Venezuela dan Iran
Singapura (ANTARA News) - Harga minyak naik di perdagangan Asia pada Selasa pagi, di tengah pengurangan pasokan yang dipimpin OPEC serta sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela, meskipun melonjaknya produksi AS dan kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi membuat pasar tetap terkendali.

Minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI), berada di 52,50 dolar AS per barel pada pukul 01.02 GMT (08.02 WIB), naik sembilan sen AS atau 0,2 persen, dari penutupan terakhir mereka.

Minyak mentah berjangka internasional Brent naik 18 sen AS atau 0,3 persen, menjadi diperdagangkan di 61,69 dolar AS per barel.

Para analis memperingatkan bahwa pasar semakin ketat di tengah pengurangan produksi sukarela yang dipimpin oleh Organisasi Negara-negar Pengekspor Minyak (OPEC) dan karena sanksi-sanksi AS terhadap Venezuela dan Iran.

Tetapi beberapa mengatakan bahwa risiko-risiko sisi penawaran tidak mendapatkan fokus yang cukup.

"Kami percaya bahwa minyak tidak memperhitungkan risiko-risiko sisi penawaran belakangan ini karena pasar saat ini fokus pada pembicaraan perdagangan AS-China, mengabaikan risiko-risiko yang ada saat ini akibat hilangnya barel Venezuela," kata bank AS, J.P. Morgan dalam catatan mingguan, dikutip dari Reuters.

Jika perundingan AS-China untuk mengakhiri perselisihan perdagangan antara kedua negara memiliki hasil positif, bank mengatakan pasar minyak akan "mengalihkan perhatian dari kekhawatiran makro yang berdampak pada pertumbuhan permintaan di masa depan ke pengetatan fisik dan risiko-risiko geopolitik yang berdampak pada pasokan langsung".

Dengan OPEC terlibat dalam manajemen pasokan dan Timur Tengah terjerat dalam konflik politik sementara produksi di luar kelompok itu melonjak, Bank of America Merrill Lynch mengatakan pangsa pasar global OPEC akan turun karena produksi langsung turun menjadi 29 juta barel per hari (bph) pada 2024 dari 31,9 juta barel per hari pada 2018.

Pasokan AS yang meningkat dan potensi perlambatan ekonomi tahun ini dapat membatasi pasar minyak.

"Kekhawatiran kelebihan pasokan yang berasal dari AS kemungkinan akan tetap menjadi tema dominan saat kita mendekati bulan-bulan lebih hangat," kata Edward Moya, analis pasar di pialang berjangka OANDA.

Bank AS Morgan Stanley mengatakan lonjakan produksi minyak mentah AS, yang cenderung menjadi ringan (light) dalam kualitas dan yang naik lebih dari 2 juta barel per hari (bph) tahun lalu ke rekor 11,9 juta barel per hari, telah mengakibatkan bensin kelebihan produksi.

"Minyak mentah ringan secara alami menghasilkan lebih banyak bensin, dan bersama-sama dengan pertumbuhan permintaan yang relatif moderat, ini telah mendorong stok bensin naik tajam dan perbedaan harga (minyak mentah dan produk bahan bakar minyak) lebih rendah dalam beberapa bulan terakhir," kata Morgan Stanley.

Keuntungan penyulingan untuk bensin telah anjlok sejak pertengahan 2018, menjadi negatif di Asia dan Eropa, di tengah pertumbuhan permintaan yang hangat dan lonjakan pasokan.

Akibatnya, Morgan Stanley mengatakan "margin penyulingan yang rendah dan data ekonomi yang lebih lemah berarti harga minyak hanya bisa reli terbatas (dan) kami terus melihat kenaikan moderat untuk Brent menjadi 65 dolar AS per barel di paruh kedua (2019)".

Bank of America juga memperingatkan "perlambatan signifikan dalam pertumbuhan global", menambahkan bahwa bank memperkirakan Brent dan WTI masing-masing mencapai rata-rata 70 dolar AS per barel dan 59 dolar AS per barel pada 2019, serta 65 dolar AS per barel dan 60 dolar AS per barel pada 2020.

Baca juga: Harga minyak turun tertekan kenaikan jumlah "rig" AS dan kekhawatiran permintaan
 

Pewarta: Apep Suhendar
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Trade Expo 2019 targetkan nilai transaksi 1,7 miliar dolar AS

Komentar