counter

148 kasus DBD terjadi di Jember-Jatim

148 kasus DBD terjadi di Jember-Jatim

Pencegahan Demam Berdarah Seorang anak mengenakan masker ketika petugas melakukan pengasapan (fogging) untuk memutus siklus hidup nyamuk aedes aegypti di kawasan Kenjeran, Surabaya, Jatim, Jumat (30/1). Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Jatim, tercatat 1.817 kasus demam berdarah atau umlah tersebut meningkat 85,41 persen dibandingkan bulan yang sama pada tahun 2014. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Jumlah kasus DBD memang mengalami peningkatan di Kabupaten Jember dibandingkan periode yang sama tahun lalu, namun tidak ada penetapan kejadian luar biasa (KLB) terkait DBD di Jember
Jember, Jatim (ANTARA News) - Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, sejak Januari hingga pertengahan februari 2019 mencapai 148 kasus, namun tidak ada pasien meninggal dunia.

"Jumlah kasus DBD pada Januari 2019 tercatat sebanyak 90 kasus dan Februari hingga pertengahan tercatat sebanyak 50 kasus," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember, Siti Nurul Qomariyah di Jember, Senin.

Menurutnya, kasus DBD terbanyak berada di Desa Kemungisari Kidul, Kecamatan Jenggawah, dan beberapa kelurahan di Kecamatan Sumbersari, dan Kecamatan Kaliwates, sehingga pihaknya terus gencar melakukan sosialisasi untuk pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

"Jumlah kasus DBD memang mengalami peningkatan di Kabupaten Jember dibandingkan periode yang sama tahun lalu, namun tidak ada penetapan kejadian luar biasa (KLB) terkait DBD di Jember," tuturnya.

Ia menjelaskan pemerintah bersama masyarakat giat melakukan PSN dengan cara mengubur, menutup, dan menimbun (3M) untuk menekan penyebaran berkembang biaknya nyamuk Aedes Aegypti, sehingga kasus DBD dapat menurun di Kabupaten Jember.

"Cara yang paling efektif untuk menekan DBD adalah PSN secara intensif, bukan pengasapan atau fogging yang hanya membunuh nyamuk Aedes Aegypti pada saat dilakukan fogging saja, sehingga perlu dibangun kesadaran masyarakat untuk meningkatkan gerakan PSN," katanya.

Ia mengatakan fogging dilakukan setelah ada tiga pasien yang positif DBD, kemudian puskesmas melakukan kunjungan untuk penyelidikan epidemologi atau kajian melihat sejauh mana penularan demam berdarah di wilayah setempat dan angka bebas jentiknya yang tinggi, sehingga baru bisa difogging.

Jika fogging dilakukan sembarangan, lanjut dia, dikhawatirkan nyamuk akan kebal terhadap obat kimia ?tersebut dan pengasapan tersebut juga bisa menjadi racun bagi lingkungan sekitar karena kandungan zat dalam gas fogging juga berbahaya bagi kesehatan manusia kalau terhirup secara berlebihan.

"Saya imbau masyarakat lebih menggiatkan gerakan PSN dan ada yang menjadi juru pemantau jentik di setiap keluarga, sehingga penyebaran nyamuk Aedes Aegypti bisa ditekan di Jember dan kasus DBD bisa menurun," ujarnya.

Baca juga: DBD serang 162 warga Jember, seorang balita meninggal

Baca juga: Tiga penderita demam berdarah di Jember meninggal

Menkes sebut 2 faktor menurunnya kasus DBD

Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar