counter

Artikel

MRT si saudara muda, peluru baru transportasi Jakarta

MRT si saudara muda, peluru baru transportasi Jakarta

Petugas melakukan pengecekan kereta Mass Rapid Transit (MRT) di Stasiun Lebak Bulus, Jakarta, Kamis (17/1/2019). Jelang peresmian MRT yang akan dilaksanakan pada Maret 2019 tersebut masyarakat dapat mencoba secara gratis moda transportasi itu mulai 27 Februari. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

Jakarta (ANTARA News) - Dalam hitungan satu purnama dari sekarang (Maret 2019), masyarakat Jakarta akan menikmati sarana transportasi baru bernama Moda Raya Terpadu (MRT).

Dengan kehadirannya yang berbasis rel layang dan bawah tanah, Jakarta akan menjadi salah satu kota yang memiliki tren transportasi yang massal, cepat, mudah dan terjangkau layaknya London, New York hingga Tokyo.

Pengamat transportasi dari Institut Studi Transportasi (Instra) Deddy Herlambang menilai Jakarta terlambat dalam mengembangkan sebuah moda transportasi untuk memenuhi kriteria-kriteria tersebut di atas.

"Bahkan sejak dicetuskan pembangunan suatu sistem transportasi bagi kota besar pada tahun 1986 yang termasuk jaringan rel bawah tanahnya, baru tereksekusi pada dekade 2000-an. Namun tranportasi model ini memang harus dieksekusi mengingat kondisi kemacetan di Jakarta," kata Deddy.

Berdasarkan data dari berbagai sumber, jaringan kereta bawah tanah memang sudah dimulai oleh kota-kota besar dunia, bahkan lebih dari seabad yang lalu.

Jaringan rel bawah tanah pertama di dunia disebutkan ada di London. Buku London's Lost Tube Schemes (2005) karya Antony Badsey-Ellis, menyebut jaringan bawah tanah pertama mulai beroperasi pada 10 Januari 1863 oleh "Metropolitan Railway" atau "The Met".

"The Met" beroperasi di wilayah pusat kota yang memanjang ke arah Barat Laut London sejauh 6 km dengan menggunakan kereta uap dalam bangunan terowongan yang dibangun dengan sistem gali-timbun (cut and cover tunnel).

Setelah jaringan bawah tanah London diperluas dan dikembangkan terowongan model pipa, populer-lah nama "The Tube" untuk menyebut jaringan kereta bawah tanah London (London Underground) yang dioperasikan beberapa perusahaan.

Pada 1890, jalur kereta listrik bawah tanah dibuka di London yang menjadikan "The Tube" jalur kereta bawah tanah tercepat dan tanpa polusi asap pertama di dunia.

Christian Wolmar dalam The Subterranean Railway: How the London Underground was Built and How it Changed the City Forever (2004), jaringan di London ini masih digunakan sampai saat ini dan sudah berkembang hingga memiliki panjang 402 kilometer yang menghubungkan 270 stasiun serta merupakan salah satu jalur kereta listrik terpanjang di dunia yang mampu melayani 1,2 miliar orang setiap tahunnya.

Di Asia, kereta bawah tanah untuk penumpang pertama dibuka di Tokyo pada 30 Desember 1927 di jalur Ginza sejauh 2,2 km antara Ueno dan Asakusa. Saking populernya jalur tersebut setelah dibuka, diberitakan penumpang harus menunggu lebih dari dua jam untuk naik kereta dalam perjalanan lima menit.
 
Dalam artikel "Subways keep Tokyo on the move" surat kabar Japan Today (2007), disebutkan saat ini jalur bawah tanah Tokyo memiliki 13 jalur dengan panjang total 304,1 km dan mampu melayani 8,7 juta orang per hari dioperasikan oleh Tokyo Metro dan Toei Subway.

Hampir seabad dari jalur bawah tanah pertama di Asia (Tokyo) dan seabad lebih dari London, Jakarta akan memiliki sebuah angkutan layang dan bawah tanah pertama di Indonesia dengan mengusung konsep angkutan masal cepat (mass rapid transit) yang strategis dan diharapkan terjangkau dalam bentuk Moda Raya Terpadu (MRT).
Deretan kereta MRT Jakarta di stasiun Lebak Bulus. (Antara News/Aji Cakti)


Saudara tua (KRL dan Transjakarta)

Dirintis sejak 2006, MRT mulai dibangun dengan skema pinjaman lunak dari Jepang (JICA) pada 10 Oktober 2013 dan diharapkan memenuhi kebutuhan warga Jakarta akan transportasi mass rapid transit yang terjangkau.

Kendati demikian, sesungguhnya kebutuhan masyarakat akan moda transportasi mass rapid transit perlahan terpenuhi oleh kereta komuter berbasis rel (KRL) dan bus Transjakarta yang lebih dulu hadir di ibu kota.

Sejarah KRL cukup panjang di Indonesia, mulai dari elektrifikasi jalur pada 1923-1924 oleh perusahaan kereta Hindia Belanda Staatsspoorwegen (SS) dari Tanjung Priok sampai Jatinegara, yang dioperasikan menggunakan lokomotif listrik buatan pabrik SLM–BBC, pabrik AEG, pabrik Werkspoor Belanda serta pabrik Westinghouse dan buatan pabrik General Electric.

Lalu sempat dihentikan operasinya akhir tahun 1965 karena merosot tajamnya jumlah penumpang dan kondisi umum Jakarta yang tidak kondusif, baru pada 1976 kereta listrik kembali muncul dengan pemesanan 10 set kereta listrik oleh PNKA dari Jepang, yang memiliki daya angkut 134 penumpang per kereta pada 1972.

Setelah dibentuk anak perusahaan PT KAI, yakni PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ), yang fokus pada pengoperasian jalur kereta listrik di wilayah Jabotabek pada 2008, KCJ mulai modernisasi angkutan KRL.

Dimulai dengan menyederhanakan rute di Jakarta Raya yang semula 37 rute menjadi lima rute utama, penghapusan KRL ekspres, penerapan gerbong khusus wanita dan mengubah nama KRL ekonomi-AC menjadi Kereta Commuter.

Proyek ini dilanjutkan dengan renovasi, penataan ulang, sterilisasi sarana dan prasarana jalur kereta dan stasiun kereta serta penempatan satuan keamanan pada tiap gerbong, hingga pada Juli 2013, mulai diterapkan sistem tiket elektronik COMMET (Commuter Electronic Ticketing) dan perubahan sistem tarif kereta.

Saat ini, kereta komuter memiliki enam rute (termasuk Jakarta Kota-Tanjung Priok) dengan panjang jaringan 235 km, 80 stasiun yang melayani 316 juta penumpang dalam setahun (rata-rata 950 ribu penumpang per hari), merelasikan daerah urban penyangga Jakarta dengan kota Jakarta.

Walau telah ada kereta komuter dengan rel listrik (KRL) yang memiliki jalur melingkari Jakarta dan memanjang hingga ke wilayah penyangganya di Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi serta dapat terkategori sebagai Mass Rapid Transit, hal ini masih dirasakan kurang memenuhi keinginan masyarakat.

Kurang memenuhinya kebutuhan masyarakat antara lain, masih banyaknya wilayah yang tidak terjangkau, sementara kemacetan terus terjadi, akhirnya digagas berbagai model transportasi lainnya, salah satunya adalah dengan bus.

Terinspirasi kesuksesan sistem TransMilenio di Bogota, Kolombia, sejak idenya muncul 2001, pada 15 Januari 2004, pemerintah DKI Jakarta mulai mengoperasikan Mass Rapid Transit berbentuk bus kota dengan jalur khusus (Bus Rapid Transit/BRT), yang dikenal dengan nama Transjakarta.

Transjakarta merupakan aplikasi mass rapid transit dengan bentuk bus yang mengkombinasikan elemen stasiun dan kendaraan bus dalam sistem perencanaan transportasi kota, mencakup jalur bus yang terpisah, sistem turun-naik penumpang yang cepat, sistem tiket yang efisien, kenyamanan dan pelayanan, teknologi yang ramah lingkungan serta integrasi moda transportasi.

Saat mulai digulirkan, banyak perusahaan bus yang menolak keberadaannya karena alasan persaingan bisnis. Hingga akhirnya Gubernur DKI Jakarta saat itu, Sutiyoso, menggandeng para perusahaan bus untuk terlibat langsung menjadi operator.

"Mereka ditunjuk langsung," kata Bang Yos kala itu.

Seiring waktu, Transjakarta pun semakin populer. Bahkan, saat ini Transjakarta yang dirancang sebagai moda transportasi massal pendukung aktivitas ibu kota yang sangat padat, sudah memiliki 1.300 armada dengan jalur lintasan 230,9 km serta memiliki 243 stasiun di 13 koridor dan merupakan salah satu sistem BRT terpanjang di dunia.
Masinis melakukan uji coba kereta Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta fase I koridor Lebak Bulus - Bundaran HI di Jakarta, Kamis (7/2/2019). Transportasi massal berbasis rel itu rencananya akan terintegrasi dengan moda lainnya seperti LRT dan KRL Commuterline agar memudahkan masyarakat mengakses dan menggunakan transportasi umum. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
 

Peluru Baru MRT

Meski sudah ada berbagai transportasi massal cepat yang relatif murah seperti KRL, Transjakarta dan juga dikembangkan kereta ringan Light Rail Transit (LRT) yang seluruh jalurnya melayang, Jakarta masih terus mengembangkan sarana transportasi masalnya.

Berbekal studi-studi BJ Habibie sejak 1986, Gubernur DKI Jakarta 1997-2007 Sutiyoso melakukan studi dan penelitian yang dijadikan landasan pembangunan transportasi Mass Rapid Transit di Jakarta.

Akhirnya pada 2004, Bang Yos panggilan akrab Sutiyoso, lantas mengeluarkan Keputusan Gubernur tentang Sistem Transportasi Makro untuk mendukung skenario penyediaan transportasi massal terintegrasi di Jakarta antara yang berbasis jalan dengan yang berbasis rel mulai 2004 hingga 2020 yang menjadi landasan pembangunan transportasi Jakarta saat ini.

Sutiyoso saat itu melihat Jakarta harus memiliki banyak jenis transportasi yang memadai baik bus, berbasis rel hingga yang dijalankan di sungai (water way). Alasannya kemacetan Jakarta yang diprediksi akan terus terjadi jika tidak ada solusinya, sementara transportasi yang ada belum memenuhi kebutuhan.

Pengamat transportasi dari Institut Studi Transportasi (Instra) Deddy Herlambang sepakat dengan hal tersebut, menurutnya KRL yang masih berebut jalur dengan berbagai kereta jarak jauh dan banyaknya perlintasan sebidang dengan jalan raya membuat perjalanan tidak akan secara cepat memindahkan orang antar titik.

"Bus Transjakarta pun demikian, karena bersinggungan langsung dengan jalan raya, konfliknya akan besar. Karenanya moda transportasi harus banyak dan steril atau eksklusif sehingga terpenuhinya kebutuhan masyarakat untuk transportasi yang cepat," kata Deddy.

Sementara kereta layang LRT masih terus dikembangkan, saat bersamaan DKI mengembangkan moda transportasi berbasis rel lainnya yakni Moda Raya Terpadu.

Dengan skema pinjaman lunak dari Jepang (JICA), 10 Oktober 2013, pengerjaan proyek Moda Raya Terpadu atau MRT ini resmi mulai digarap dan fase I Lebak Bulus-Bundaran HI (16 km) akan beroperasi komersial pada 24-31 Maret 2019 serta direncanakan satu harinya akan beroperasi dalam 20 jam (05.00 WIB hingga 24.00 WIB).
MRT ini menggunakan kereta berkinerja tinggi, digerakkan secara elektrik, beroperasi di jalur eksklusif tanpa jalur persilangan dengan jalan, dengan peron stasiun besar dan nyaman yang secara internasional disebut dengan istilah "Metro".

Dengan kecepatan maksimum hingga 110 km per jam, pihak MRT menyebut jarak tempuh dari Lebakbulus menuju Dukuh Atas yang biasanya ditempuh 1,5 jam akan lebih cepat menjadi sekitar 28 menit.

Tarif moda transportasi ini-pun cukup kompetitif dengan harga yang ditawarkan Rp8.500 dengan jarak tempuh per 10 km dan antar stasiun sekitar Rp1.000 dengan perhitungan kasar sekitar Rp12 ribu dengan jarak terjauh fase I.

"Nanti, Lebak Bulus-Bundaran HI dapat ditempuh dalam waktu 30 menit dengan harga yang kompetitif," ucap Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar.

Pembangunan jaringan MRT di Jakarta  yang keretanya disebut Gubernur Jakarta Anies Baswedan "Ratangga", direncanakan terbagi menjadi dua koridor, yakni koridor satu dengan jalur Utara-Selatan, terbentang mulai dari Lebak Bulus hingga Kota Tua. Lalu, koridor dua dengan jalur Timur ke Barat, terbentang mulai dari Balaraja hingga Cikarang.

"Ratangga yang berasal dari bahasa Sansekerta dalam Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular adalah kereta perang yang identik dengan kekuatan dan pejuang. Semoga dengan kehadiran dan beroperasinya Ratangga nanti, tidak hanya meningkatkan mobilitas, namun juga memberikan manfaat tambahan," ujar Anies yang juga mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu.

Dalam perjalanannya nanti, Moda Raya Terpadu dan LRT akan terintegrasi dengan program Jak (Jakarta) Lingko (jaringan sawah adat terintegrasi di NTT) yang mengintegrasikan moda berbasis jalan raya (Transjakarta dan angkutan kecil).

Integrasi ini, mulai dari infrastruktur yang akan saling bertemu di titik yang disebut dengan kawasan Transit Oriented Development (TOD), hingga pengelolaan tarif dan manajemennya melalui pembentukan perusahaan gabungan (joint venture) yang masih dalam tahap pembahasan.

"Harapannya agar masyarakat bisa lebih mudah mengakses transportasi publik dengan jarak maksimal ke halte sekitar 500 meter, yang akhirnya akan meninggalkan kendaraan pribadi untuk beraktivitas dan otomatis menanggulangi kemacetan di Jakarta," ujar Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Kini, MRT Jakarta sudah mulai digelar. Moda Raya Terpadu sebagai simbol baru transportasi modern sudah hadir untuk menjadi "peluru" baru transportasi ibu kota menambah kekuatan KRL dan Transjakarta.

Selain memecahkan persoalan kemacetan di Jakarta serta meningkatkan produktifitas masyarakat Jakarta dan sekitarnya, MRT selajutnya diharapkan dapat memberi akses transportasi modern ke wilayah metropolitan lainnya yaitu Bodetabek.

Baca juga: Perlunya kesungguhan menerapkan TOD dalam MRT Jakarta
Baca juga: TOD, "magnet" integrasi dan bisnis MRT
Baca juga: MRT simbol kemajuan Jakarta

 

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar