counter

Siswa MTS Negeri III Palu belajar di bawah pohon

Siswa MTS Negeri III Palu belajar di bawah pohon

Sejumlah pelajar korban gempa dan tsunami mengikuti ujian semester di ruang kelas darurat di Sekolah Dasar (SD) Karya Thayyibah Mamboro di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (3/12/2018). Pascabencana gempa, tsunami dan likuifaksi Sulteng, sebagian sekolah di daerah tersebut melaksanakan ujian semester di kelas dan tenda darurat. (ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/kye.)

Palu (ANTARA News) - Siswa/siswi Madrasah Tsanawiah Negeri III Kota Palu, Sulawesi Tengah masih belajar di bawah pohon karena sekolah mereka rusak akibat gempa dan likuifaksi di Kelurahan Petobo Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Pantauan Antara, Sabtu, sekolah di bawah naungan Kementerian Agama itu terpaksa meminjam lahan milik warga Kelurahan Birobuli Selatan, Kecamatan Palu Selatan untuk aktivitas pembelajaran karena tidak punya gedung sekolah. Gedung sekolahnya hancur diterjang gempa dan likuifaksi pada 28 September 2018.

"Kami terpaksa belajar di bawah pohon agar tidak ketinggalan pelajaran, apalagi ujian nasional (UN) dan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) sudah dekat," kata salah seorang siswa yang enggan disebut namanya.

Meski belajar sementara di alam terbuka, semangat siswa dan guru terlihat cukup tinggi.

Mereka hanya berharap gedung sekolah yang rusak karena terdampak likuifaksi di Kelurahan Petobo, satu dari dua lokasi yang diterjang likuifaksi di Palu, Ibu Kota Provinsi Sulteng tersebut, segera dibangun kembali.

Untuk membangun kembali di tempat semula tidak mungkin lagi, karena wilayah permukiman yang terkena likuifaksi tidak boleh lagi ada bangunan, termasuk sekolah akan direlokasi ke lokasi lain yang layak.

Pemerintah memperpanjang masa transisi darurat hingga April 2019 karena masih banyak sarana dan fasilitas, termasuk hunian sementara (huntara) yang belum dibangun.

Sekolah juga banyak yang belum dibangun atau diperbaiki. Hingga kini sebagian besar siswa di sejumlah wilayah terdampak di Sulteng masih belajar di tenda-tenda darurat yang dibangun berbagai lembaga kemanusiaan peduli bencana alam.

Kegiatan sekolah di tenda darurat itu, seperti SD BK Jono Oge, SD Negeri Lolu di Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi, SD Talise di Kota Palu. Kegiatan belajar mengajar masih di tenda bantuan Unicef dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulteng menyebutkan jumlah sekolah yang rusak akibat gempa, tsunami, dan likuifaksi di empat wilayah, yakni Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong 2.736 unit dari berbagai tingkatan pendidikan.*


Baca juga: Kemdikbud salurkan 6.635 pasang sepatu untuk korban bencana

Baca juga: Sulteng akan pindahkan sekolah dari area terdampak likuifaksi


 

Pewarta: Anas Masa
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menilik proses riset pengukuran potensi likuifaksi

Komentar