counter

Debat Capres

Sandiaga sebut prevelansi AKI di Indonesia berada di angka 300, ini penjelasannya

Sandiaga sebut prevelansi AKI di Indonesia berada di angka 300,  ini penjelasannya

Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno mengikuti mengikuti debat capres putaran ketiga di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3/2019). Debat itu mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan budaya. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A./pras.

Jakarta (Antara) - Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahudin Uno dalam Debat Capres 2019 Putaran Ketiga di Jakarta, Minggu, menyampaikan bahwa angka kematian ibu di Indonesia (AKI) saat ini masih berada di 300/100 ribu penduduk per tahun.

Cek fakta: Minim pengetahuan sebab angka kematian ibu tinggi
Cek fakta: BKKBN: angka kematian neonatal mengalami penurunan

Badan Pusat Statistik (BPS) dan World Health Organization (WHO) mendefinisikan maternal mortality ratio atau AKI sebagai angka kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup seperti dilansir dari laman resmi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) di Jakara, Sabtu. Menurut laporan dari WHO, kematian ibu umumnya terjadi akibat komplikasi saat dan pascakehamilan.

Adapun jenis-jenis komplikasi yang menyebabkan mayoritas kasus kematian ibu adalah pendarahan, infeksi, tekanan darah tinggi saat kehamilan, komplikasi persalinan, dan aborsi yang tidak aman.

Cek fakta: AIPI himpun data faktor penentu kematian ibu-bayi

Untuk kasus Indonesia sendiri, berdasarkan data dari Pusat Kesehatan dan Informasi Kementerian Kesehatan RI pada 2014, penyebab utama kematian ibu dari tahun 2010-2013 adalah pendarahan sebesar 30,3 persen dan hipertensi sebesar 27,1 persen. Kemenkes RI pada Maret 2018 merilis data yang menyatakan bahwa AKI pada tahun tersebut masih mencapai 346/100 ribu penduduk.

Pada 2019, Kemenkes RI menargetkan peningkatan status kesehatan dan gizi masyarakat, salah satunya penurunan AKI, menjadi 306/100 ribu penduduk.

 

Pewarta: Tim Jacx
Editor: Panca Hari Prabowo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komisi IX DPR panggil IDI dan Kemenkes bahas Dokter Terawan

Komentar