counter

Tak ada TPAS, warga Serang-Banten didorong kelola sampah mandiri

Tak ada TPAS, warga Serang-Banten didorong kelola sampah mandiri

Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah saat meresmikan kelompok Kareo Mandiri Sejahtera (KMS) di Kampung Kareo Dukuh, Desa Kareo, Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, Rabu (20/3/2019). (FOTO ANTARA/Sambas)

Kami mendorong masyarakat mengelola sampah secara mandiri. Kemudian diolah menjadi bahan yang bermanfaat
Serang (ANTARA) - Bupati Serang, Provinsi Banten, Ratu Tatu Chasanah terus mendorong masyarakat agar mengelola sampah secara mandiri dan didaur ulang, selain agar menjadi lebih bermanfaat, juga karena daerah ini sudah tidak punya tempat pembuangan sampah akhir (TPAS).

“Kami mendorong masyarakat mengelola sampah secara mandiri. Kemudian diolah menjadi bahan yang bermanfaat,” katanya saat meresmikan kelompok Kareo Mandiri Sejahtera (KMS) di Kampung Kareo Dukuh, Desa Kareo, Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang, Rabu.

Ia mengatakan, sejak Kabupaten Serang memekarkan Kota Serang, TPSA Cilowong diserahkan kepada Pemkot Serang, dan saat ini daya tampung TPSA Cilowong mulai berkurang.

KMS merupakan kelompok masyarakat yang mengelola sampah permukiman secara mandiri. Kemudian berbagai sampah didaur ulang menjadi lebih bernilai ekonomi.

Daur ulang yang dilakukan, antara lain sampah plastik bisa dibuat berbagai kerajinan tangan, dengan mesin pencacah, sampah plastik bisa dibuat bahan bangunan, kemudian dari sampah pula, dihasilkan pupuk organik.

Tatu menegaskan, Pemkab Serang akan membantu masyarakat yang mau mengolah sampah secara mandiri. Ia mengakui pada tahap awal, masyarakat biasanya bersemangat mengelola sampah secara mandiri.

“Kami akan terus dorong masyarakat untuk semangat mengelola sampah secara mandiri,” katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Serang Sri Budi Prihasto mengatakan, sampah per hari dari 29 kecamatan di Kabupaten Serang yang bisa ditangani dan dibuang ke TPSA Cilowong mencapai 276 meter kubik.

Sementara potensi sampah per hari dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta jiwa, mencapai 672 ribu meter kubik per hari.

“Potensi sampah tersebut jika kita memakai teori satu jiwa berpotensi menghasilkan sampah setengah kilogram. Jadi kita harus berupaya menangani dan mengurangi sampah mulai dari warga,” katanya.

Menurutnya, apa yang dilakukan KMS merupakan salah satu upaya penanganan masalah sampah. Selain itu, warga bisa juga menangani dengan membakar dan mengubur sampah dengan baik.

Dengan menggunakan mesin pencacah, sampah yang produksinya bisa menghasilkan bahan bangunan, namun menurut Budi, harus dilihat terlebih dahulu pangsa pasar dari produk tersebut.

“Ini kita dalam tahap uji coba, jika nanti pangsa pasar bagus, dan warga mau mengelola sampah secara mandiri, kita bisa perbanyak mesin pencacah sampah. Intinya sesuai perintah Ibu Bupati, kita akan perbanyak kelompok masyarakat yang mengelola sampah secara mandiri,” kata Budi.


Baca juga: Pemkab Serang segera bangun TPST

Baca juga: DLH Kota Serang prioritaskan program bank sampah

Pewarta: Sambas
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar