counter

Pemerintahan baru perlu selaraskan pendidikan dengan "link and match"

Pemerintahan baru perlu selaraskan pendidikan dengan "link and match"

Arsip Foto. Pelatih mengajarkan cara memotong besi pada peserta didik saat Pelatihan Vokasi Welder di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) PT PAL Indonesia, Surabaya, Jawa Timur. (ANTARA/Didik Suhartono)

"Saya melihat untuk 10 sampai dengan 15 tahun mendatang, industri yang akan masuk ke Indonesia yakni industri yang membutuhkan semiskilled labour. Semiskilled labour ini yang berasal dari SMK kalau dari sisi sekolah menengah dan vokasi untuk tingkat
Jakarta (ANTARA) - Pengamat ekonomi Hisar Sirait menyarankan kepada pemerintahan yang akan terpilih untuk menyelaraskan struktur pendidikan dengan konsep "link and match" terkait penciptaan lapangan kerja.

"Orang percaya bahwa lapangan kerja haruslah diciptakan oleh suplai. Tapi dengan kondisi saat ini kita harus bisa memastikan bahwa struktur pendidikan kita baik yang sifatnya sektor pendidikan yang melekat di dalam pendidikan formal maupun informal  selaras dengan konsep link and match," ujar Rektor Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie tersebut kepada Antara di Jakarta, Kamis.

Dia menjelaskan bahwa bagaimana sekarang institusi pendidikan memastikan bahwa apa yang institusi itu berikan kepada generasi muda mulai dari mereka masuk dari level pendidikan menengah, terutama SMK mengingat pendidikan menengah kejuruan itu menjadi prioritas.

"Saya melihat untuk 10 sampai dengan 15 tahun mendatang, industri yang akan masuk ke Indonesia yakni industri yang membutuhkan semiskilled labour. Semiskilled labour ini yang berasal dari SMK kalau dari sisi sekolah menengah dan vokasi untuk tingkat pendidikan tinggi atau universitas," ujar pengamat itu.

Hisar juga menambahkan bahwa saat ini pemerintahan yang akan terpilih harus lebih banyak lagi mendorong pendidikan-pendidikan vokasi sehingga lebih banyak lagi masyarakat kita, anak-anak muda saat ini memiliki keterampilan.

Selain itu, menurut dia, harus ada perubahan paradigma dalam penyiapan tenaga-tenaga kerja  dalam level semi-skilled labour.

Ia mengatakan, budaya untuk memasukkan generasi muda ke sekolah-sekolah yang memberikan keterampilan, seperti SMK dan pendidikan vokasi masih rendah. Budaya masyarakat saat ini cenderung memasukkan anak-anaknya ke SMA atau universitas.

"Padahal sebetulnya peta pembangunan industri kita untuk 15 tahun mendatang adalah industri yang membutuhkan semiskilled labourl. Siapa yang bisa menjawab hal ini? hanya SMK dan pendidikan vokasi," ujar Hisar.

Pengamat ekonomi itu berharap hal tersebut bisa menjadi dorongan kepada siapapun sosok yang akan terpilih sebagai menteri pendidikan serta menteri riset, teknologi, dan pendidikan tinggi , karena seyogianya mereka harus sudah memikirkan pendidikan-pendidikan vokasi yang betul-betul link and match dengan kebutuhan industri. Inilah kemungkinan jawaban bagi pembangunan ekonomi Indonesia.

Selain itu Hisar Sirait juga melihat bahwa saat ini tren dari peta pengeluaran dunia sudah masuk pada industri pariwisata atau hospitality. Dengan demikian harus lebih banyak bidang-bidang dalam pendidikan Indonesia yang mengarah pada sektor jasa pariwisata.

Pewarta: Aji Cakti
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pendidikan kesetaraan bagi penghuni Lapas

Komentar