counter

Akademisi: perempuan Indonesia juga harus mengikuti zaman milineal

Akademisi: perempuan Indonesia juga harus mengikuti zaman milineal

Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Medan ( (Unimed) Dr Martina Restuati,MSi , di Medan, Minggu, mengatakan perempuan Indonesia harus membuka diri dan mau terus belajar mengikuti perubahan zaman. (Antara Sumut/Foto Istimewa)

Medan (ANTARA) - Akademisi yang juga Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Medan Dr Martina Restuati,MSi mengatakan perempuan Indonesia harus membuka diri dan mau terus belajar mengikuti perubahan zaman yang tentu juga diikuti perilaku, karakter dan sikap terutama anak-anak perempuan milineal.

"Perempuan sebagai pendidik generasi milineal yang nanti akan menjadi generasi penerus harus mampu mengikuti perkembangan Era Revolusi Industri 4.0, yaitu menguasai big data, literasi dan digital dengan tetap memperhatikan karakter, serta mampu berbuat banyak dan tidak meninggalkan nilai agama agar tidak tergilas zaman," ujar Martina di Medan, Minggu.

Semua perempuan Indonesia, menurut dia, sudah mengerti bahwa jasa Pahlawan Indonesia Raden Ajeng Kartini sangat besar bagi wanita Indonesia.

"Tanpa adanya Raden Ajeng Kartini, mungkin perempuan Indonesia tidak akan maju seperti yang terjadi sekarang ini," ujar Martina.

Ia menyebutkan, perempuan Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0 tidak tertinggal, meskipun mereka berprofesi sebagai Ibu rumah tangga.

Hal itu, ditandai dengan mereka sudah dapat memanfaatkan media digital untuk berbagai keperluan dan kebutuhan sehari-hari misalnya berbelanja, pembayaran listrik, air, telepon dan berbagai jasa rumah tangga secara "online".

"Untuk berkarier pun perempuan Indonesia sudah bebas memilih karier apa saja tanpa batas, karena sudah memiliki berbagai kompetensi yang sudah diperoleh untuk menghadapi Era Revolusi Industri 4.0 tersebut," kata alumni S-2 Institut Pertanian Bogor (IPB) Tahun 1994.

Martina menjelaskan, bahkan banyak kompetensi perempuan melebihi kaum laki-laki.Namun tidak dapat dipungkiri masih ada beberapa tantangan dalam menarik tenaga kerja profesional perempuan untuk bekerja di beberapa sektor seperti di dunia industri.

Karena selama ini dianggap sebagai dominan laki-laki.Dan memang di dominasi oleh pekerja laki-laki karena dianggap pekerjaan fisik, sehingga tidak menarik bagi perempuan.

​​​​​​​Peryataan tersebut, dari hasil penelitian oleh UNESCO 2015 yang masih menunjukkan rendahnya tingkat partisipasi pekerja perempuan di bidang industri.
Namun, tidak demikian untuk sektor pendidikan.Sektor ini didominasi oleh perempuan, karena kodrat dan jiwa perempuan sebagai Ibu yang melahirkan dan tentu ingin anaknya menjadi yang terbaik.

"Peran perempuan di perguruan tinggi sangat dibutuhkan dalam menggali potensi kaum perempuan agar menjadi lulusan yang kuat dan mampu menghadapi persaingan di Era Revolusi Industri 4.0," kata lulusan S-3 jurusan Biologi Universitas Sumtera Utara (USU) Tahun 2015.
 

Pewarta: Munawar Mandailing
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Serunya lomba menghias hantaran seserahan pernikahan

Komentar