counter

Walhi Sumsel minta hentikan penebangan hutan

Walhi Sumsel minta hentikan penebangan hutan

Kamera Termal Pendeteksi Karhutla Foto udara menara termal milik APP-Sinar Mas yang berada di distrik Simpang Tiga, OKI, Sumatera Selatan, Kamis (9/3). Untuk mendeteksi sejak dini kebakaran hutan dan lahan APP-Sinar Mas memasang dua buah kamera termal di distrik Simpang Tiga dan Kecamatan Padang Sugihan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel,. Dengan jarak pantau sepanjang 10km dan mampu memutar 360 derajat secara otomatis dan dalam setiap lima menit akan naik turun untuk melihat titik api yang ada di kawasan tersebut. (Antarasumsel.com/Nova Wahyudi)

Palembang (ANTARA) - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sumatera Selatan meminta aparat penegak hukum, pemerintah daerah dan pihak berwenang lainnya untuk menghentikan aktivitas penebangan pohon di kawasan hutan karena dapat memperparah kerusakan hutan.

Kawasan hutan di daerah ini setiap tahunnya mengalami kerusakan, melihat kondisi tersebut perlu dilakukan tindakan serius untuk menghentikan aktivitas penebangan pohon baik untuk pemanfaatan kayunya maupun untuk pembukaan lahan pertanian, perkebunan dan pertambangan, kata Direktur Eksekutif Walhi Sumsel, Muhammad Hairul Sobri di Palembang, Selasa.

Berdasarkan pengamatan aktivis lingkungan di lapangan dan informasi masyarakat, kerusakan hutan di beberapa wilayah Sumatera Selatan hingga kini masih berlanjut.

Melihat kondisi tersebut, aparat berwenang diminta untuk melakukan berbagai upaya penyelamatan dan pelestarian hutan agar luasan kawasan hutan tidak semakin berkurang.

Luas hutan di provinsi yang memiliki 17 kabupaten dan kota ini mencapai 3,5 juta hektare lebih, dari jumlah tersebut sebagian besar diperkirakan mengalami kerusakan baik ringan maupun berat.

Hutan yang ada di provinsi ini dimanfaatkan secara berlebihan, kayunya ditebangi dan lahannya dimanfaatkan untuk kegiatan pertambangan mineral dan batu bara, serta perkebunan, katanya.

Dia menjelaskan akibat terjadi kerusakan yang cukup luas seperti pemanfaatan kawasan hutan lindung dan produksi untuk kebun kelapa sawit, karet, tebu, akasia, dan kebun teh yang luasnya mencapai 1,6 juta ha lebih, menyebabkan hutan tidak bisa berfungsi dengan baik.

Akibat hutan tidak dapat berfungsi dengan baik secara maksimal, ketika musim hujan terjadinya bencana banjir dan tanah longsor di mana-mana yang dapat menimbulkan kerugian harta benda dan korban jiwa.

Kerusakan hutan di provinsi ini tidak boleh dibiarkan terus meluas karena dapat menghambat upaya penanganan perubahan iklim dan penyelamatan lingkungan hidup.

Hutan perlu dikembalikan fungsinya sebagai gudang penyimpan air dan tempat penyerapan air hujan, sehingga air hujan yang berlimpah dapat disimpan di dalam tanah dan tidak langsung mengalir mengakibatkan meluapnya sungai dan banjir pada setiap musim hujan, ujar Soibri.

Baca juga: Walhi Sumsel prihatin kerusakan hutan masih berlanjut

Baca juga: Satu juta dari 3,5 juta hektare hutan di Sumsel rusak

Cara tradisional berburu babi hutan di Kuningan

Pewarta: Yudi Abdullah
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar