counter

MPR gelar "FGD" bersama UIN Raden Inten

MPR gelar "FGD" bersama UIN Raden Inten

Focus group discussion (FGD) MPR bersama dengan Puluhan akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Inten Bandar Lampung, Lampung. (Humas MPR)

Saat ini di masyarakat timbul dinamika yang sangat tinggi
Jakarta (ANTARA) - Puluhan akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Inten mengikuti "focus group discussion" (FGD) yang diselenggarakan oleh MPR di Kota Bandar Lampung, Lampung, sebagai salah satu bentuk Sosialisasi Pancasila, UUD Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam rilis MPR, Rabu, menyebutkan dalam acara itu, seluruh peserta merepresentasi makalah yang dibuat dengan tema Membangun Etika Sosial dan Budaya, di mana mereka mengemukakan pandangan apa yang menjadi penyebab kontraksi di masyarakat dan memberi solusi bagaimana menyelesaikannya.

Anggota Badan Pengkajian MPR, Endro Suswantoro Yahman, menyatakan tersanjung atas tulisan yang dibuat oleh para akademisi yang semuanya bergelar doktor itu.

"Makalah dari para akademisi sangat bagus,” ujarnya.

Hendro menilai tema yang dibuat dalam FGD disebut sangat tepat dalam kondisi saat ini.

"Saat ini di masyarakat timbul dinamika yang sangat tinggi," tutur anggota MPR dari Fraksi PDIP itu.

Dia mengakui di masyarakat timbul kontraksi sosial apalagi menjelang dan selepas Pemilu 2019.

"Ada keinginan kita untuk bersatu kembali," ujarnya. Menghadapi dinamika yang demikian disebut manusia memerlukan etika sosial. "Dalam rangkaian kehidupan perlu etika," ucapnya.

Untuk itu ia merasa senang dengan FGD yang digelar kali ini sebab dengan acara itu masyarakat mendapat kesadaran dan pemahaman baru. Untuk itu acara FGD baginya perlu dilanjutkan. Menurutnya MPR perlu menjaring dan mendengar aspirasi dan suara dari "langit" perguruan tinggi.

"Mereka kaum intelektual yang mampu membangun kesadaran," ucapnya.

Dia mengatakan kepada para peserta bahwa bangsa ini perlu membangun kesadaran bersama. Bangsa ini disebut berangkat dari ke-bhinneka-an. Untuk itu perbedaan yang ada perlu disikapi dengan bijak dengan cara membangun kebersamaan. Paling penting menurut alumni UGM itu adalah membangun manusianya.

"Contohnya, kalau memperbaiki partai politik, yang dibangun bukan partainya namun orangnya," ucapnya.

Ketika ditanya soal pemahaman masyarakat terhadap Pancasila, Endro mengakui pemahaman Pancasila di kalangan masyarakat bagus.

"Kita perlu belajar ke masyarakat," ungkapnya. Untuk itu sebenarnya sosialisasi lebih ditujukan kepada elite. "Bila eliet yang tidak benar maka yang jadi korban adalah rakyat," tambahnya.

Wan Jamaluddin, akademisi yang mewakili Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Inten, dalam kesempatan itu mengatakan makalah yang tersaji dalam acara itu sangat beragam, ada yang mengutarakan berdasarkan pandangan kearifan lokal, nilai-nilai religius, serta membumikan Pancasila.

Ia berharap semua aspirasi yang ada dipadukan karena semua merepresentasikan gagasan. Bila sudah padu, makalah tadi mampu untuk menjawab isu aktual dan kekinian yang ada di Indonesia.

Sinergi BUMN untuk negeri pecahkan rekor MURI bantuan Al Quran terbanyak

Pewarta: Joko Susilo
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar