Jakarta (ANTARA News) - Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Djoko Santoso, Rabu pagi, menjalani uji kepatutan dan kelayakan sebagai calon Panglima TNI untuk menggantikan Marsekal TNI Djoko Suyanto. Jenderal TNI Djoko Santoso merupakan calon tunggal Panglima TNI yang diusulkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui suratnya Nomor 65 yang diajukan ke pimpinan DPR, pada Senin (28/11). Sidang uji kepatutan dan kelayakan calon Panglima TNI itu dipimpin langsung oleh Ketua Komisi I DPR, Theo L. Sambuaga dan dihadiri oleh hampir seluruh anggota Komisi I. Kiprah alumni Akademi Militer (Akmil) 1975 itu lebih banyak dihabiskan di bidang intelijen dan baru menanjak namanya sejak menjabat sebagai Panglima Kodam XVI/Pattimura sekaligus Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan (Pangkoopslihkam) di Maluku pada periode 2002-2003. Pria asal Solo kelahiran 8 September 1952 tersebut sebelumnya dipercaya menjadi Wakil Asisten Sosial Politik Kepala Staf Teritorial TNI pada 1998, Kepala Staf Kodam IV/Diponegoro pada 2000 dan setahun kemudian dipercaya menduduki kursi Panglima Divisi II/Kostrad. Djoko yang tamat dari pendidikan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) pada 1990 lalu, kemudian dipercaya sebagai Panglima Kodam Jaya periode Mei-Oktober 2003. Selanjutnya, ayah dari dua anak ini dipercaya untuk menjabat sebagai Wakil Kasad sejak 2003 hingga 2005 dan langsung ditunjuk sebagai orang nomor satu di matra darat menggantikan Jenderal Ryamizard Ryacudu. Uji kepatutan dan kelayakan terhadap Djoko Santoso sempat terancam tertunda karena beberapa isu tidak sedap yang melibatkan TNI AD dengan salah satu kerabatnya, seperti dugaan penyelundupan 35 unit mobil "pick up" yang akan dikaroseri sebagai ambulans militer di Indonesia yang mencuat selama sepekan ini. (*)

Pewarta:
Copyright © ANTARA 2007