"SmartTren Ramadhan" SMK Wikrama Bogor ditambahkan multikulturalisme

"SmartTren Ramadhan" SMK Wikrama Bogor ditambahkan multikulturalisme

Ustadz Cecep Erik Kurniawan, S.Ag (baris belakang tiga dari kiri) bersama peserta didik di SMK Wikrama Bogor, Jabar, yang mengikuti kegiatan "SmartTren Ramadhan" 1440 Hijriah/2019. (FOTO ANTARA/HO-Humas SMK Wikrama)

Dan kemudian mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari,
Jakarta (ANTARA) - Kegiatan "SmartTren Ramadhan" 1440 Hijriah yang digagas Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Wikrama Kota Bogor, Jawa Barat, selain diisi dengan kegiatan ke-Islaman, juga ditambahkan materi mengenai multikulturalisme.

"Ada juga materi tambahan mengenai toleransi, dan perlunya mewaspadai berita yang sifatnya hoax (berita bohong)," kata Sekretaris Panitia Penyelenggara kegiatan itu, ustadz Cecep Erik Kurniawan, S.Ag di Bogor, Selasa.

Didampingi Kepala Humas SMK Wikrama, Rudy Benyamin saat ditemui di sela-sela kegiatan Siswa Belajar di Pesantren Ramadhan (SmarTren), ia menjelaskan bahwa materi-materi tambahan yang disampaikan kepada peserta kegiatan itu adalah untuk memberikan wawasan lebih luas.

Kegiatan "SmartTren Ramadhan" yang berlangsung selama lima hari (20-24/5) itu diikuti oleh peserta didik kelas X dan XI yang beragama Islam.

Tujuan kegiatan itu, kata dia, di antaranya adalah untuk meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik terhadap ajaran Islam sehingga menjadi Muslim yang beriman dan bertakwa.

Selain itu, meningkatkan akhlakul karimah peserta didik dalam hubungan dengan Allah SWT, orang tua, orang lain, dan lingkungan hidup sekitarnya.

Kegiatan itu juga diharapkan mampu menggairahkan peserta untuk membaca, memahami, dan memfungsikan nilai-nilai Al Quran.

"Dan kemudian mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari," kata Cecep Erik Kurniawan, yang juga guru Pendidikan Agama Islam (PAI) itu.

Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan itu merujuk pada Surat Edaran Dinas Pendidikan Jabar Nomor:978.3/8907-Set.Disdik, tentang pelaksanaan kegiatan penumbuhan budi pekerti melalui "SmartTren Ramadhan" di SMA, SMK dan SLB (Sekolah Luar Biasa).

Kegiatan itu bisa dalam bentuk kerja sama dengan pondok pesantren (ponpes) atau juga dilakukan secara mandiri.

"Dan kami di SMK Wikrama melaksanakannya dengan mandiri," katanya.

SMK Wikrama dikenal sebagai sekolah percontohan dan rujukan nasional karena prestasi-prestasi yang diukir peserta didiknya.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Prawitama, yang menaungi SMK Wikrama, Dr drh Agus Lelana, Sp.MP, M.Si menyatakan bahwa prestasi yang diraih pelajar sekolah itu akan terus ditingkatkan, dari kompetensi keahlian yang ada, baik skala lokal, nasional, regional dan internasional.

Kompetensi keahlian di SMK Wikrama saat ini adalah, Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran, Teknik Komputer dan Jaringan, Rekayasa Perangkat Lunak, Multimedia, Bisnis Daring dan Pemasaran, Tata Boga dan Perhotelan.

Selain kantor pusatnya di Kota Bogor, Jawa Barat, SMK Wikrama juga ada di Kabupaten Garut (Jabar), Kabupaten Jepara (Jateng), Kabupaten Semarang (Jateng), dan di Kota Banjarmasin (Kalsel).

SMK Wikrama adalah lembaga pendidikan yang kawasannya berada di perkampungan padat penduduk. Meski, demikian deretan prestasi daerah, nasional, dan bahkan internasional telah diukir para siswanya.

Harian "Kompas" dalam sebuah laporannya berjudul "SMK Wikrama Bogor, Oase di Tengah Mahalnya Pendidikan" menyebut bahwa orang tua murid sebagian besar berasal dari kalangan ekonomi lemah, seperti penjaga vila di kawasan Puncak, pedagang asongan, tukang ojek, penjual rujak, dan "paling prestisius" adalah sopir angkutan kota (angkot).

Baca juga: Jurusan OTKP SMK Wikrama juara se-Jawa Bali

Baca juga: Mie Ganyong antar SMK Wikrama Juara 1 lomba pangan Kementan

Baca juga: Pelajar SMK-Wikrama Bogor wakili Indonesia di Festival Film Jepang

Pewarta: Andi Jauhary
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Takjil yang dibayar dengan doa

Komentar