Warga Kaitetu sedekah ketupat di malam Tujuh Likur

Warga Kaitetu sedekah ketupat di malam Tujuh Likur

Ilustrasi sajian ketupat (ANTARA/Siswowidodo/zk/17

Ambon (ANTARA) - Warga muslim di Desa Kaitetu (Pulau Ambon), Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Rabu (29/5), menggelar peringatan malam Tujuh Likur Ramadhan 1440 Hijriyah dengan menyedekahkan ketupat ke masjid dan mushala setempat.

Peringatan tersebut berkaitan dengan perayaan Lailatul Qadar, malam diturunkannya Al Quran yang mana diperingati pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan.

Pantauan ANTARA, tradisi peringatan malam Tujuh Likur dilaksanakan oleh masyarakat Kaitetu dengan menyedekahkan ketupat ke ke Masjid Wapauwe yang merupakan masjid tertua di Maluku, Masjid Hena Telu dan Mushala Nur'ain.

Ketupat yang disedekahkan dan disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga, termasuk bangunan tempat tinggal, mulai dihantarkan ke masjid dan mushala selepas shalat Ashar.

Proses menghantarkan ketupat ke masjid tidak dilakukan secara acak, melainkan berdasarkan mata rumah (kelompok marga dalam strata masyarakat adat Maluku).

Keluarga yang bermarga Hatuwe dan Nukuhaly misalnya, sebagai keluarga yang berasal dari mata rumah hulubalang raja, ketupat mereka harus dihantarkan ke Masjid Wapauwe.

Penghulu Masjid Wapauwe Jafar Lain mengatakan sedekah ketupat telah dilaksanakan  sejak zaman leluhur masyarakat Kaitetu. Tradisi ini dimaknai sebagai bentuk ungkapan rasa syukur dan suka cita diturunkannya Alquran.

Sedekah tersebut juga bagian dari ungkapan terima kasih kepada para penghulu masjid karena telah memimpin shalat tarawih selama Ramadhan.

Karena itu sebagai balasannya, para penghulu masjid akan mendoakan tiap-tiap kepala keluarga agar diberikan kesehatan dan keselamatan, sehingga bisa kembali melaksanakan ibadah puasa pada Ramadhan berikutnya.

"Dari sejumlah ketupat yang disedekahkan ke masjid oleh masing-masing keluarga, salah satu di antaranya akan dikembalikan kepada mereka untuk dimakan, kemudian bungkusnya harus digantung di tiang utama rumah sebagai perlambang amalan doa tolak bala," ujarnya.

Dikatakannya lagi, dalam tatanan adat dan budaya di Kaitetu, sedekah ketupat juga bagian dari sensus penduduk secara tradisional yang dilaksanakan oleh pemerintahan desa adat setempat.

"Tradisi sedekah ini kalau masyarakat biasa memberikan ketupat, tapi kalau raja dan keluarganya memberikan hasil bumi, seperti singkong, talas, pisang dan sebagainya," ucap Jafar.

Kaitetu merupakan satu dari 11 kampung berpenduduk muslim sunni di Kecamatan Leihitu. Desa dengan jumlah penduduk sebanyak 3.000-an jiwa itu melaksanakan ibadah puasa 1 Ramadhan 1440 Hijriyah pada 4 Mei 2019.

Selain terkenal dengan Masjid kuno Wapauwe yang dibangun pada 1414, Kaitetu juga mempunyai gereja tertua di Pulau Ambon, yakni Gereja Immanuel yang dibangun sekitar tahun 1780 - 1781 di bawah pemerintah Eillem Beth Iacobs, kepala comtoire Hila pada masa pemerintahan Gubernur Hindia-Belanda Bernardus van Pleuren.



Baca juga: Sambut lailatul qadar Keraton gelar tradisi "maleman"
Baca juga: Tradisi malemam sambut Lailatul Qadar di Lombok


 

Pewarta: Shariva Alaidrus
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar