counter

Indonesia kirim 338 calon perawat ke Jepang

Indonesia kirim 338 calon perawat ke Jepang

Direktur Pelayanan Penempatan Pemerintah BNP2TKI Arini Rahyuwati (kedua kiri) dan Direktur Urusan Ekonomi Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia Tadayuki Miyashita (ketiga kiri) berfoto bersama para calon perawat dan perawat lansia Indonesia dalam acara pelepasan keberangkatan ke Jepang, di Hotel Ibis Jakarta, Selasa (18/6/2019). (ANTARA/Suwanti)

Jakarta (ANTARA) - Indonesia mengirim 338 calon perawat medis dan perawat bagi lanjut usia (lansia) ke Jepang melalui program "G to G" atau antarpemerintah gelombang ke 12 dalam skema perjanjian kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang atau Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA).

"Ada 333 orang yang ikut pelatihan (bahasa Jepang), yang lima sudah N2 dan N3 (level kemampuan bahasa Jepang), mereka tidak perlu latihan," kata Direktur Pelayanan Penempatan Pemerintah BNP2TKI Arini Rahyuwati di Jakarta, Senin.

Para peserta akan dikirim ke Jepang melalui tiga sesi keberangkatan yang difasilitasi oleh Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dan Kedutaan Besar Jepang, yaitu pada 18, 19, dan 20 Juni 2019.

Melalui skema IJEPA, para peserta dengan spesifikasi minimum lulusan D3 Keperawatan menjalani pendidikan bahasa Jepang selama enam bulan di Indonesia dan enam bulan lagi di Jepang. Setelah itu, mereka akan mengikuti ujian nasional perawat di Jepang. Peserta yang lulus ujian baru diizinkan bekerja di Jepang dengan masa kontrak selama tiga tahun bagi perawat dan empat tahun bagi perawat lansia.

Setiap tahun, Jepang memberikan kuota sebanyak 550 perawat dan perawat lansia, namun hingga saat ini Indonesia baru dapat mengirim sekitar 300 orang.

"Kemampuan di dalam berbahasa Jepang belum terlalu bagus pada teman-teman pendaftar," ungkap Arini ketika ditanya kesulitan memenuhi kuota tersebut.

Namun, menurut Arini, kompetensi yang dimiliki oleh para perawat dan perawat lansia Indonesia menjadi nilai tambah di pasar ketenagakerjaan Jepang.

"Mereka perhatian, rajin, tekun, ramah, itu sangat disukai sama lansia-lansia di Jepang. Kelemahannya di bahasa saja, dari segi skill kita tidak kalah," kata dia.

Direktur Urusan Ekonomi Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia, Tadayuki Miyashita, menyebut bahwa Jepang memang membutuhkan perawat dan perawat lansia dalam jumlah banyak.

"Masyarakat Jepang akan menjadi lebih tua di masa depan, dan penduduk Jepang juga akan menurun, berdasarkan kedua alasan itu kami memerlukan lebih banyak perawat dan perawat lansia," kata dia.

Mulai dari angkatan pertama pada 2018 hingga gelombang 11 pada 2018 lalu, total 2.445 perawat dan perawat lansia Indonesia sudah mengikuti program bekerja di Jepang melaui skema IJEPA.

Baca juga: Indonesia-Jepang percepat penyelesaian peninjauan kembali IJEPA
​​​​​​​

Baca juga: Luhut minta Jepang tingkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia

Baca juga: Persiapan magang 14 pemuda Aceh belajar bahasa Jepang di LPK

Presiden Ingin RI–Jepang kompak di forum internasional

Pewarta: Suwanti
Editor: Azizah Fitriyanti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar