200 hektare sawah di Cilacap terdampak pengeringan irigasi

200 hektare sawah di Cilacap terdampak pengeringan irigasi

Spanduk sosialisasi rencana pengeringan saluran irigasi terpasang di Kantor Gabungan Perkumpulan Petani Pengelola Air (GP3A) Melati, Desa Kalikudi, Kecamatan Adipala, Cilacap. Pengeringan saluran irigasi tersebut semula direncanakan pada tanggal 1 Juni-15 Agustus 2019 namun dalam praktiknya mundur menjadi 1 Juli-15 September 2019. (ANTARA/Sumarwoto)

Cilacap (ANTARA) - Area persawahan seluas 200 hektare di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, terdampak rencana pengeringan saluran irigasi, kata Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap Ermawati Syahyuni.

"Kita memang sudah sosialisasikan dari awal rencana pengeringan saluran irigasi di Daerah Irigasi (DI) Serayu yang semula akan dilaksanakan pada tanggal 1 Juni hingga 15 Agustus 2019, namun kemudian diundur tanggal 1 Juli hingga 15 September 2019," katanya di Cilacap, Rabu.

Oleh karena itu, kata dia, sebagian besar sawah di DI Serayu yang luasannya mencapai 19.000 hektare telah selesai tanam pada bulan Mei 2019.

Dari lahan sawah seluas 19.000 hektare tersebut, lanjut dia, sekitar 16.000 hektare di antaranya menggunakan irigasi teknis.

Dia mengatakan berdasarkan data, masih ada sekitar 200 hektare sawah yang seharusnya memasuki masa tanam pada bulan Juni.

"Sebagian besar sawah yang seharusnya tanam pada bulan Juni berada di Kecamatan Nusawungu, sedangkan di Kecamatan Kesugihan sangat sedikit. Dengan demikian, area persawahan tersebut dimungkinkan tidak bisa tanam kalau mulai tanggal 1 Juli dilakukan pengeringan saluran irigasi," katanya.

Menurut dia, area persawahan tersebut tidak memungkinkan ditanami padi pada bulan Juni karena saluran irigasinya akan dikeringkan mulai tanggal 1 Juli, sedangkan usia tanaman baru sekitar satu bulan.

Terkait dengan hal itu, Erma mengimbau agar area persawahan seluas 200 hektare tersebut ditanami tanaman palawija.

"Hanya saja yang kami khawatirkan nanti pada bulan September, air irigasi mulai mengalir tanggal 15 September, petani tidak segera mengolah sawah, musim tanamnya menjadi mundur. Kalau musim tanamnya mundur, tentunya tidak bisa panen pada akhir tahun ini," katanya.

Ia mengatakan kekhawatiran terhadap area persawahan yang telah selesai tanam pada bulan Mei hanyalah kemungkinan terjadinya kekeringan meskipun petani sudah mengantisipasinya dengan pompanisasi.

Dalam hal ini, kata dia, Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap telah memberikan bantuan pompa air kepada petani yang pengelolaannya dilakukan oleh Usaha Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian (UPJA) di desa.

Selain DI Serayu, lanjut dia, pengeringan saluran irigasi yang ditujukan untuk perawatan dan perbaikan juga dilakukan di DI Citanduy.

Menurut dia, luas area persawahan di Kabupaten Cilacap yang pasokan air irigasinya dari DI Citanduy mencapai 44.000 hektare.

"Namun lama pengeringan di DI Citanduy tidak seperti DI Serayu, karena hanya satu bulan, kalau enggak salah 1 Agustus sampai 1 September," katanya.

Baca juga: 26.153 hektare sawah di Cilacap dan Ciamis terancam kekeringan
Baca juga: Ratusan Hektare Sawah di Cilacap Terendam Banjir

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar