counter

Diperkirakan anak usia masuk SD berkurang signifikan di Banjarmasin

Diperkirakan anak usia masuk SD berkurang signifikan di Banjarmasin

Ilustrasi - SDN Melayu 5 Banjarmasin saat mengikuti Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional. (ANTARA/firman)

Banjarmasin (ANTARA) - Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin memperkirakan, anak usia masuk Sekolah Dasar atau berusia di atas enam tahun berkurang signifikan, masalahnya banyak sekolah yang kekurangan siswa baru bahkan ada yang tidak ada sama sekali mendaftar.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin Totok Agus Daryanto di Banjarmasin, Kamis, menanggapi banyaknya sekolah dasar yang minim mendapatkan siswa baru pada tahun ajaran 2019 ini.

"Kita memang menyebutnya ada kecenderungan berkurangnya anak usia enam tahun, karena data yang dimiliki pihaknya hanya 5.636 orang anak usia disyaratkan masuk SD tersebut telah mendaftar," tuturnya.

Padahal, ucap Totok, daya tampung seluruh sekolah dasar di daerah ini bisa menerima sekitar 9 ribu siswa baru. "Banyak selisihnya, makanya akan kita analisis lagi mengapa demikian," tuturnya.

Dia menduga program KB di daerahnya memang berhasil.

Jika memang demikian, ujar Totok, maka akan dilakukan penggabungan beberapa sekolah menjadi satu. "Tapi ini baru pemikiran saja, kita tunggu tahun ajaran baru, bisa saja orangtua itu baru memasukkan sekolah anaknya saat itu," katanya.

Setelah tahun ajaran baru berjalan, kata Totok, atau sekitar akhir Juli 2019, akan ada evaluasi terhadap sekolah-sekolah yang sampai kekurangan siswa baru tersebut. "Memang kalau sampai terjadi penggabungan sejumlah SD menjadi satu itu akan ada aset yang menjadi tidak terpakai, tapi itulah risikonya," beber Totok.

Tapi hal ini bukan masalah yang baru, sebab sudah ada beberapa kali dilakukan, di mana eks lahan SD dijadikan kantor pemerintah kota. "Jadi tidak masalah itu, tapi tetap langkah seperti ini harus dengan pertimbangan cermat, bisa juga diliat satu atau dua tahun akan datang, apakah akan tetap demikian SDN itu kekurangan siswa baru nantinya," ungkap dia.

Menurut Totok, jumlah SDN di ibu kota provinsi ini sebanyak 207 buah, di mana langkah penggabungan antar sekolah bisa menjadi memperingan anggaran bagi pemerintah. "Kalau masalah gurunya bagaimana, kita kan kekurangan guru, jadi tidak ada masalah," ucapnya.

Namun di luar semua itu, kata Totok, kurangnya pendaftar bahkan ada salah satu sekolah yang sama sekali tidak ada pendaftar siswa baru dikarenakan orangtua banyak yang memasukkan anaknya ke sekolah-sekolah swasta.

"Misalnya di sekolah agama, baik sekolah Islam maupun Kristen, hampir semuanya kelebihan pendaftar siswa baru, bisa juga karena itu," katanya.*

 

Pemkot Bandung pastikan SKTM dapat digunakan

Pewarta: Sukarli
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar