counter

Aktivis minta pemimpin G20 bantu "bebaskan" Hong Kong

Aktivis minta pemimpin G20 bantu "bebaskan" Hong Kong

The G20 Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting in Fukuoka, Japan, held on 6-9th June 2019. (Documentation of Bank Indonesia)

Hong Kong (ANTARA) - Lebih dari seribu massa berjalan ke lokasi kantor konsulat luar negeri yang ada di Hong Kong, Rabu, untuk mendesak para pemimpin dunia yang akan bertemu pada Konferensi Tingkat Tinggi G20 agar mendukung pembatalan penuh atas rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi yang kontroversial.

Sambil memegang plakat bertuliskan “Tolong Bebaskan Hong Kong” dalam berbagai bahasa termasuk Rusia dan Jerman, para pengunjuk rasa yang sebagian memakai masker, berjalan beriringan ke arah konsulat negara-negara anggota G20 yang akan bertemu di Jepang pekan ini.

Dalam beberapa minggu terakhir, jutaan penduduk Hong Kong telah melakukan protes terhadap RUU ekstradisi yang akan memperbolehkan setiap orang, termasuk orang asing, untuk diekstradisi ke China dan menjalani sidang pengadilan yang dikendalikan oleh Partai Komunis.

Pemimpin Hong Kong yang ditunjuk oleh pemerintah China, Carrie Lam, akhirnya menyerah setelah beberapa kekerasan paling buruk yang pernah terlihat dalam dekade terjadi di jalanan kota, dengan polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet.

Namun, Lam menghentikan tuntutan massa untuk membatalkan seluruh rancangan undang-undang, dengan mengatakan rencana itu akan ditangguhkan dalam batas waktu yang tidak ditentukan.

“Selama pemerintah tidak menarik RUU, dan mereka menolak untuk merespon, kami akan terus berjuang,” kata Aslee Tam (19), salah satu mahasiswi yang ikut demonstrasi.

“Kami akan terus meneriakkan keluhan kami selama pertemuan G20, agar negara-negara lain membicarakan masalah Hong Kong,” lanjutnya.

Hong Kong kembali ke pemerintahan China pada 1997, sejak saat itu pemerintahan Hong Kong diatur dengan formula “satu negara, dua sistem pemerintahan” yang membolehkan kebebasan yang tidak dinikmati di China daratan, termasuk kebebasan berunjuk rasa dan peradilan mandiri.

Namun, banyak yang menuduh China makin mencampuri urusan Hong Kong selama ini, antara lain menghalangi reformasi demokratis, mencampuri urusan pemilu dan menjadi dalang hilangnya lima penjual buku di Hong Kong dengan kekhususan karya-karya yang mengkritik pemimpin China.

“Bela Hong Kong”

Di konsulat AS, pemrotes menyerahkan petisi meminta Presiden Donald Trump untuk “Bela Hong Kong di KTT G20”. Mereka mendesak Trump dalam pembicaraannya dengan Presiden China Xi Jinping untuk mendukung penarikan RUU secara penuh dan pemeriksaan mandiri atas tindakan polisi Hong Kong terhadap demonstran.

Para pemrotes, beberapa memakai kaus “Bebaskan Hong Kong”, juga beriringan ke arah konsulat Inggris di mana seorang pria mengangkat tanda “Bebaskan HK dari jajahan China”.

Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt menyampaikan kepada parlemen, Selasa, bahwa London akan melarang penjualan gas air mata ke Hong Kong dan meminta pemeriksaan mandiri atas kekerasan terbaru -- sebuah isyarat yang disambut baik sebagian massa.

Di Beijing, juru bicara Menteri Luar Negeri China Geng Shuang mendesak Inggris untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri mereka.

“Inggris berulang kali telah membuat pernyataan yang tidak bertanggung jawab dan secara terang-terangan turut campur urusan yang berkaitan dengan Hong Kong. China sangat tidak senang dan menolak keras atas tindakan ini,” katanya dalam penjelasan harian kepada pers.

Dalam aksi pada Rabu, massa terbagi menjadi tiga kelompok dan berbondong-bondong berjalan secara damai di sepanjang kota ke 16 kantor perwakilan diplomatik, termasuk antara lain Kantor Uni Eropa, konsulat Argentina, Australia, Kanada, Italia, Jepang, Afrika Selatan, Korea Selatan, Rusia, dan Turki.

“Ini pertama kalinya massa berjalan beriringan ke berbagai konsulat untuk mengutarakan satu pandangan,” ujar salah satu penyelenggara bermarga Lau.

Para pengunjuk rasa membawa manifesto yang bertuliskan janji China untuk mengijinkan Hong Kong mendapat hak otonomi penuh setelah penyerahan kedaulatan 1997, yang sekarang terancam.

Mengangkat isu ekstradisi Hong Kong di dalam KTT dapat mempermalukan Xi di tengah masa sulit seiring meningkatnya ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat.

Pembahasan isu itu juga akan memberi tekanan lebih ke pemimpin Hong Kong di tengah laporan yang menyatakan Beijing memiliki keraguan yang serius atas kemampuan Lam.

Asisten Menlu Zhang Jun pada pekan ini mengatakan China tidak akan membiarkan Hong Kong dibahas dalam KTT G20 di Osaka, Jepang.

Aktivis Hong Kong telah mengumpulkan dana lebih dari lima juta dolar Hong Kong (setara sekitar Rp9 triliun) melalui urun dana untuk pasang iklan tentang protes mereka di media-media asing terkenal, seperti the New York Times, selama pelaksanaan KTT untuk menarik perhatian dunia.

Beberapa pegiat Hong Kong juga telah pergi ke Osaka.

Sumber: Reuters
 

Presiden Erdogan berencana kunjungi Indonesia awal 2020

Penerjemah: Azizah Fitriyanti
Editor: Eliswan Azly
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar