counter

Pakar Jepang prediksi China semakin kuat

Pakar Jepang prediksi China semakin kuat

Ketua Institute for International Strategy the Japan Research Institute Hitoshi Tanaka (pertama kiri) berbicara dalam seminar "Japanese Perspective for Security in East Asia" yang diselenggarakan CSIS di Jakarta, Kamis (4/7/2019). (ANTARA/Yashinta Difa)

Jakarta (ANTARA) - Pakar strategi internasional dari Institute for International Strategy the Japan Research Institute, Jepang, Hitoshi Tanaka memprediksi China akan berkembang sebagai kekuatan besar di Asia, dan menggeser posisi Amerika Serikat (AS).

“China semakin bangkit bukan hanya dalam skala ekonomi, tetapi juga militer. Saat ini China telah mencapai 60 persen dari PDB Amerika Serikat,” kata Tanaka dalam seminar yang diselenggarakan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Jakarta, Kamis.

Tanaka kemudian membahas mengenai hegemoni AS serta kebangkitan China yang cepat.

Dia kemudian mengevaluasi dampak kekuatan utama ini terhadap keamanan Jepang, khususnya pada apa yang telah mereka lakukan dan apa yang bisa mereka lakukan di masa depan.

Mantan wakil menteri Luar Negeri Jepang itu menyebut bahwa di masa depan, China mungkin juga mengejar semacam hegemoni. China akan membangun kemampuan militer, seperti yang mereka lakukan di Laut China Selatan dan Laut China Timur.

“China tidak keberatan menggunakan kekuatan mereka untuk memaksa negara lain mengubah pandangan mereka,” ujar Tanaka.

Sementara itu, AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, dinilai semakin tidak dapat diprediksi dan pada akhirnya mungkin tidak dapat dipercaya, mengingat adanya perang dagang dengan China yang berdampak pada banyak negara.

“Ini adalah persoalan serius terkait stabilitas internasional,” tutur Tanaka.

Perkembangan kekuatan China dan AS yang semakin tidak seimbang ini, Tanaka melanjutkan, perlu direspon dunia dengan mengembangkan kerja sama yang saling menguntungkan satu sama lain.

Selain itu, Jepang akan berupaya meningkatkan peran dalam bidang keamanan dengan menegaskan kembali Perjanjian Keamanan yang ditandatangani dengan AS pada 1951.

Perjanjian tersebut sempat disebut “tidak adil” oleh Trump karena memuat kewajiban AS untuk membela Jepang jika negara tersebut diserang, namun tidak sebaliknya.

Padahal, perjanjian tersebut memungkinkan militer AS menggunakan Jepang sebagai pangkalan militer strategis untuk melindungi sejumlah kepentingan keamanan AS di Asia Timur.

“Dengan kebutuhan perluasan keamanan, saya berharap Perjanjian Keamanan antara Jepang dan Amerika Serikat akan didukung oleh langkah-langkah lain yang pada akhirnya akan menciptakan kerja sama keamanan yang menguntungkan,” ujar Tanaka.

Baca juga: Peneliti: Perang dagang China-AS beri Indonesia peluang

Baca juga: Zhu Feng: Kebijakan AS kepada China tidak adil

Baca juga: Indonesia bisa tiru Vietnam manfaatkan perang dagang Amerika-China


Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Azizah Fitriyanti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Direct Call” dorong pertumbuhan ekonomi Sulsel

Komentar