counter

DK PBB desak pemberlakuan gencatan senjata di Libya

DK PBB desak pemberlakuan gencatan senjata di Libya

Ilustrasi - Pemandangan yang menunjukkan kerusakan di lokasi setelah serangan udara oleh pesawat tempur Amerika Serikat melawan Islamic State di Sabratha, Libya, dalam foto Jumat (19/2/2016). (REUTERS/Sabratha municipality media office/Handout)

New York, PBB (ANTARA) - Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Jumat mengutuk serangan udara yang mematikan terhadap pusat penahanan migran di Libya, menyerukan para pihak yang berperang untuk berkomitmen kepada gencatan senjata dan mendesak negara-negara lain jangan campur tangan atau memperburuk konflik.

DK yang beranggota 15 negara bertemu pada Rabu setelah serangan udara pada Selasa malam menewaskan sedikitnya 53 orang, termasuk enam anak-anak.

Tetapi Dewan tak dapat mengeluarkan sebuah pernyataan dengan cepat karena memerlukan konsensus. Amerika Serikat tidak dapat menyetujuinya, kata para diplomat. Diplomat-diplomat mengatakan pernyataan tersebut yang dikeluarkan pada Jumat tak mengalami perubahan bahasa dan sesuai dengan apa yang dibahas pada Rabu.

"Para anggota Dewan Keamanan menekankan perlunya bagi semua pihak untuk segera jangan memperparah situasi dan berkomitmen pada gencatan senjata," demikian pernyataan itu. "Perdamaian dan stabilitas yang lestari di Libya hanya akan datang melalui solusi politik."

Serangan udara atau gempuran terhadap pusat migran itu menimbulkan keprihatinan sejak pasukan timur di bawah Khalifa Haftar melancarkan ofensif udara dan darat tiga bulan lalu untuk menguasai Tripoli. Ibu Kota Libya itu merupakan basis pemerintahan negara yang diakui internasional.

DK PBB telah berusaha keras untuk mengatasi kekerasan baru. Segera setelah Haftar mulai melancarkan ofensif, Amerika Serikat dan Rusia mengatakan kepada para kolega di Dewan itu bahwa mereka tidak dapat mendukung sebuah resolusi yang akan menyerukan satu gencatan senjata di Libya.

Kekerasan mulai merebak di negara Afrika Utara penghasil minyak dan gas itu sejak penggulingan yang didukung NATO terhadap pemimpin Muammar Gaddafi tahun 2011.

Kedua pihak yang berperang memperoleh dukungan militer dari kekuatan-kekuatan regional. Pasukan Haftar sudah dipasok selama bertahun-tahun oleh Uni Emirat Arab dan Mesir, sementara Turki baru-baru ini mengirim senjata ke Tripoli untuk menghentikan serangan Haftar, kata para diplomat.

"Para anggota Dewan Keamanan menyerukan penghormatan penuh bagi embargo senjata oleh seluruh negara-negara anggota," demikian bunyi pernyataan itu, dan "mengimbau negara-negara anggota jangan campur tangan dalam konflik atau mengambil langkah-langkah yang memperparah konflik."

Sumber: Reuters
.
 

Penerjemah: Mohamad Anthoni
Editor: Eliswan Azly
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar