counter

Artikel

Sains, kecerdasan otak, dan radikal bebas dalam olahraga

Oleh Aditya Ramadhan

Sains, kecerdasan otak, dan radikal bebas dalam olahraga

Ilustrasi - Pertandingan Futsal Porprov NTB Ke-X Tahun 2018, di Sport Hall GOR 17 Desember Turida, Mataram, NTB. (ANTARA/Dhimas BP)

Jakarta (ANTARA) - Baru-baru ini sebuah penelitian dalam program doktor Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengungkapkan tentang sains dalam olahraga yang terbukti bisa berdampak pada peningkatan kecerdasan otak namun juga pembentukan radikal bebas.

Mantan atlet soft ball nasional yang kini meraih gelar doktor di FKUI, Dr Jajat Darajat Kusumah Negara S.Pd M.Kes AIFO, seorang ahli ilmu faal olahraga yang melakukan penelitian tentang pengaruh olahraga futsal bagi perkembangan otak anak.

Jajat meneliti remaja usia 13-15 tahun yang melakukan olahraga futsal dalam periode dan frekuensi waktu yang berbeda-beda, yaitu satu kali per minggu, tiga kali per minggu, dan lima kali per minggu. Olahraga futsal yang dilakukan tersebut selama 60 menit sudah lengkap dengan waktu pemanasan selama 20 menit.

Dalam penelitiannya, Jajat tidak hanya memperhatikan perkembangan anak remaja yang melakukan olahraga futsal saja, melainkan diselipkan beberapa permainan ketangkasan dalam mengolah si kulit bundar yang dikaitkan dengan konsentrasi dan memori anak.

Dengan kode kartu warna-warni, setiap anak harus bisa melakukan giringan bola, tendangan ke gawang, berhenti berlari dan sebagainya yang bertumpu pada memori dan konsentrasi.

Hasil penelitian sarjana lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung itu pun menunjukkan ada tidaknya perkembangan jasmani, kognisi, dan psikis dari anak yang berolahraga futsal.

Untuk anak remaja yang rutin berolahraga futsal satu kali per minggu ternyata tidak cukup baik untuk meningkatkan kebugaran jasmani. Jadwal olahraga seperti ini juga masih terlalu tanggung untuk bisa meningkatkan kecerdasan otak anak.

Sementara untuk anak yang berolahraga futsal secara rutin tiga kali seminggu, dampak yang dihasilkan ternyata luar biasa.

Pertama, dari sisi fisik anak menjadi bugar yang berkaitan dengan kesehatan tubuh meningkat dan tidak mudah sakit-sakitan. Futsal tiga kali dalam seminggu meningkatkan kebugaran jasmani jauh lebih bermanfaat ketimbang berolahraga satu kali seminggu.

Tidak hanya fisik, pengaruh rutinnya berolahraga futsal tiga kali seminggu juga bisa meningkatkan neuroplastisitas atau regenerasi saraf-saraf di otak yang berkaitan dengan kecerdasan.

Dari hasil penelitian Jajat, terbukti anak-anak yang berolahraga futsal tiga kali seminggu memiliki kemampuan atensi dan memori yang meningkat dibanding anak yang hanya berolahraga satu kali seminggu.

Olahraga permainan seperti futsal, basket, bulu tangkis atau lainnya yang berprinsip pada kegiatan multy tasking antara otak dan fisik akan meningkatkan fungsi kognisi seperti atensi yang berkaitan dengan konsentrasi, memori, kontrol diri, meningkatkan rasa percaya diri, menstimulasi anak berpikir kritis dan kreatif tercermin dari gerakan variatif yang dihasilkan dalam berolahraga.

Tidak hanya cukup untuk kebugaran jasmani dan kecerdasan otak, olahraga futsal tiga kali seminggu juga berpengaruh pada mental anak.

Jajat menyebutkan bahwa olahraga futsal mengandung gerakan yang sangat kompleks dan itu berdampak pada neurotransmitters serta protein BDNF yang secara struktural mempengaruhi fungsi kognitif. Protein BDNF atau Brain Derived Neurotrophic Factor berperan dalam pembelajaran, memori, dan kesehatan mental seseorang.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa anak yang berolahraga futsal tiga kali seminggu mampu menekan kortisol atau hormon stress menjadi lebih rendah dibanding remaja yang hanya berolahraga satu kali per minggu. Pada pokoknya, ketahanan psikis anak yang berolahraga tiga kali seminggu lebih kuat dibandingkan anak yang hanya berolahraga satu kali per minggu.

Kemampuan mengendalikan stress pada anak ini dirasa sangat bermanfaat bagi remaja di kehidupannya baik di sekolah, lingkungan, hubungan pertemanan, dan keluarga.

Kendati olahraga ini sangat baik bagi kebugaran jasmani, kecerdasan otak, dan psikis anak remaja, bukan berarti dengan berolahraga lebih sering bisa mendapatkan hasil yang lebih baik.

Justru sebaliknya, anak remaja yang berolahraga lebih sering yaitu lima kali seminggu malah tidak lebih baik dari anak yang berolahraga tiga kali per minggu.

Olahraga lima kali seminggu hanya memiliki dampak yang sama terhadap kebugaran jasamani anak yang berolahraga tiga kali seminggu, namun tidak untuk perkembangan kecerdasan otak dan psikis anak.

Penelitian mengungkapkan tidak ada peningkatan neuroplastisitas atau regenerasi saraf otak yang berkaitan dengan kecerdasan dan fungsi kognisi pada anak yang berolahraga lima kali seminggu.

Malahan, kadar kortisol atau hormon stress pada remaja yang berolahraga lima kali seminggu justru meningkat meski peningkatannya masih dalam batas wajar. Jajat menyebutkan anak yang berolahraga lima kali seminggu justru terjadi stress fisik dan stress psikis yang dikaitkan pada kelelahan.

Lebih lagi, pada anak yang berolahraga lima kali seminggu terdapat peningkatan kadar MDA atau malondialdehide yang merupakan indikator aktivitas radikal bebas di dalam sel tubuh. Olahraga dengan intensitas tinggi akan menimbulkan akumulasi radikal bebas dan berisiko kerusakan jaringan.

Pada anak yang berolahraga lima kali seminggu ditemukan stres oksidatif atau ketidakseimbangan oksidatif, di mana komposisi oksidan yang berdampak negatif bagi sel tubuh lebih dominan dibanding antioksidan yang berfungsi untuk melindungi sel.

Jajat tidak memungkiri bahwa ada anak remaja yang begitu menggilai olahraga seperti futsal sehingga berolahraga secara tidak terkontrol dan tidak terukur. Oleh karena itu dia sangat menyarankan anak yang gemar berolahraga hingga lebih dari lima kali seminggu untuk mengonsumsi buah dan sayur yang mengandung antioksidan.

Jajat yang juga aktif di KONI dan PB Persatuan Baseball dan Softball Seluruh Indonesia (Perbasasi) menjelaskan bahwa olahraga apapun yang intensitas tinggi dan secara terus menerus dapat membentuk radikal bebas dalam tubuh.

Namun seiring meningkatkanya kemampuan tubuh dalam berolahraga, tubuh dengan sendirinya mampu mengeliminasi radikal bebas itu. Oleh karena itu penting untuk berolahraga secara terukur, terkontrol, dan dilakukan mulai dari yang ringan berlanjut ke olahraga intensitas tinggi saat kemampuan tubuh meningkat.

Dia juga menekankan pentingnya asupan nutrisi dan gizi yang seimbang, terutama sayur dan buah untuk antioksidan bagi orang yang gemar berolahraga. Berbeda dengan halnya atlet, orang yang berolahraga dengan intensitas yang lebih rendah daripada atlet bisa memenuhi nutrisi tubuh dengan makanan saja.

Namun, bagi atlet dengan latihan setiap hari dan bahkan tiga kali dalam sehari, memerlukan nutrisi tambahan di luar pola makan serperti Vitamin C, Vitamin E, likopen, dan flavonoid agar tubuh yang sering dipakai berolahraga tidak tekor.

Jika ada atlet yang bandel tidak mau meminum nutrisi tambahan, Jajat memperkirakan tubuh atlet tersebut akan kolaps dalam 10 hingga 20 tahun ke depan karena radikal bebas yang terbentuk tak diimbangi dengan antioksidan.*

Baca juga: Olahraga futsal tiga kali seminggu bisa tingkatkan kecerdasan otak

Baca juga: Faktor yang berpengaruh di 1000 hari pertama kehidupan

 

Oleh Aditya Ramadhan
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kompetisi olahraga Sukmalindo pererat hubungan Malaysia-Indonesia

Komentar