counter

Minyak turun untuk hari kedua di Asia karena produksi Teluk AS kembali

Minyak turun untuk hari kedua di Asia karena produksi Teluk AS kembali

Ilustrasi - harga minyak turun. (ANTARANEWS/Ardika)

Hambatan yang lebih signifikan di pasar minyak adalah data konsumsi China yang lebih lemah,
Tokyo (ANTARA) - Harga minyak turun untuk hari kedua di perdagangan Asia pada Selasa pagi, karena lebih banyak fasilitas produksi kembali beroperasi di Teluk AS setelah Topan Barry melanda kawasan tersebut selama akhir pekan, sementara data ekonomi China meredupkan prospek permintaan minyak mentah.

Minyak mentah berjangka Brent turun 10 sen atau 0,2 persen menjadi diperdagangkan di 66,38 dolar AS per barel pada pukul 00.28 GMT (07.28 WIB). Patokan global Brent turun 0,4 persen pada sesi perdagangan semalam.

Minyak mentah berjangka AS, West Intermediate Texas (WTI) turun 10 sen, atau 0,2 persen menjadi diperdagangkan di 59,48 dolar AS per barel. Kontrak acuan AS turun sekitar satu persen sesi sebelumnya.

Kedua kontrak pekan lalu membuat keuntungan mingguan terbesar mereka dalam tiga minggu, karena persediaan minyak AS turun dan ketegangan diplomatik meningkat di Timur Tengah.

Tetapi ketika produsen-produsen pada Senin (15/7/2019) mulai memulihkan sebagian dari hampir 74 persen produksi yang ditutup di platform Teluk Meksiko AS menjelang Badai Barry, kekhawatiran tentang kelebihan pasokan kembali ke permukaan.

Dan, sementara data China pada Senin (15/7/2019) menunjukkan produksi industri dan data ritel mengalahkan ekspektasi, angka keseluruhan menunjukkan pertumbuhan ekonomi triwulanan paling lambat di negara itu dalam beberapa dekade.

Throughput (banyaknya produksi) minyak China naik ke rekor 13,07 juta barel per hari pada Juni, naik 7,7 persen dari setahun sebelumnya, menyusul dimulainya dua kilang besar baru, data resmi menunjukkan.

Namun, pertumbuhan ekonomi hanya 6,2 persen pada kuartal kedua 2019 -- yang terlemah dalam 27 tahun -- menyoroti dampak dari ketegangan perdagangan dengan Washington dan meningkatkan kemungkinan bahwa lebih banyak insentif mungkin diperlukan untuk merangsang ekonomi.

"Hambatan yang lebih signifikan di pasar minyak adalah data konsumsi China yang lebih lemah," kata Stephen Innes, managing partner, di Vanguard Markets.

Di AS terdapat 1,3 juta barel per hari (bpd) produksi minyak offline di wilayah-wilayah Teluk Meksiko yang diatur AS pada Senin (15/7/2019), sekitar 80.000 barel lebih sedikit dari pada Minggu (14/7/2019).

Para pekerja juga kembali ke lebih dari 280 anjungan produksi yang telah dievakuasi. Diperlukan beberapa hari untuk produksi penuh dilanjutkan kembali setelah badai meninggalkan Teluk Meksiko.

Baca juga: Harga minyak merosot, jenis WTI jadi di bawah 60 dolar
Baca juga: Harga minyak sedikit melemah di Asia jelang rilis data ekonomi China

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wawancara eksklusif Changyong Rhee Direktur Departemen Asia Pasifik IMF

Komentar