counter

Artikel

Lari malam, berkeringat bersama di Senayan

Oleh A Rauf Adipati

Lari malam, berkeringat bersama di Senayan

Aktivitas olahraga malam di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (18/7/2019). (ANTARA/A Rauf Adipati)

... Yang penting keringatan...
Jakarta (ANTARA) - Generasi yang tumbuh pada era 1980-an dan 1990-an kemungkinan besar akan mengenal slogan "memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat." Atau lebih lama lagi adalah Mens Sana In Corpore Sano yang sering didengungkan pada Orde Lama. 

Adalah Asisten Menteri Pemuda dan Olahraga, Mangombar Ferdinand Siregar, yang pertama kali mengusulkan slogan tersebut kepada Presiden Indonesia saat itu, Soeharto. Laki-laki suku Batak itu biasa ditulis namanya sebagai MF Siregar dan dia memang sangat mencintai olahraga. 

Setelah melalui perjalanan panjang, termasuk komunikasi dengan Musyawarah Olahraga KONI Pusat dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef, slogan itu pun kemudian ditetapkan menjadi "panji olahraga nasional" dan ditetapkan dalam amanat Presiden Soeharto pada Sidang MPR/DPR 1981.

Generasi kekinian mungkin asing dengan slogan "mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga" itu, namun mereka justru dapat melihat aplikasi slogan itudi Kompleks Olahraga Gelora Bung Karno, Jakarta.

Hampir setiap sore sampai malam hari, kompleks olahraga itu dipenuhi warga ibukota dan sekitarnya dari berbagai kalangan yang ingin berolahraga.

Asian Games
Kompleks Olahraga Gelora Bung Karno dibangun untuk menyongsong ajang besar Asian Games 1962 pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Setelah Soekarno turun tahta, Presiden Soeharto sempat mengganti nama kompleks ini dengan nama Kompleks Olahraga Senayan. Namun setelah Presiden Soeharto lengser, kompleks ini dinamakan kembali dengan nama lamanya oleh Presiden Abdurrahman Wahid.

Untuk fisik stadionnya, sejumlah klub besar Eropa seperti Liverpool, Inter Milan, Bayern Muenchen, Juventus, dan Lazio pernah mencicipi rumput Stadion Gelora Bung Karno (SU GBK). Sebagian besar di antara mereka, mengaku puas dengan kondisi lapangan dan atmosfer yang terdapat di SU GBK.

Sebagai stadion yang dapat menampung banyak orang, sejumlah kegiatan non olahraga juga pernah diselenggarakan di sini. Sebut saja perayaan ulang tahun partai yang kini sudah dilarang oleh pemerintah, Partai Komunis Indonesia, muktamar khilafah, perayaan Natal bersama, sampai yang terkini kampanye akbar dua calon pasangan presiden pada Pemilu 2019.

Kondisi kompleks olahraga yang menua karena dimakan usia, membuatnya harus direnovasi untuk menyambut ajang Asian Games 2018. Maka sejak pertengahan 2016, SU GBK dan keseluruhan kompleks gelanggang olahraga ini mengalami renovasi besar-besaran.
 
Sejumlah warga Jakarta dan sekitarnya berlari di lingkar luar Stadion Utama Gelora Bung Karno (SU GBK), Senayan, Jakarta, Kamis (18/7/2019). (A Rauf Andar Adipati)


Wajah kemajemukan
Kemajemukan Indonesia dapat terlihat jelas saat mendatangi Stadion GBK pada sore sampai malam hari.
Ratusan orang berolahraga dalam waktu yang bersamaan. Tidak peduli usia, jenis kelamin, agama, ras, afiliasi politik maupun hal-hal lain yang kerap menjadi pembeda.

Jurang perbedaan ekonomi juga tidak terlalu terlihat di sini. Betul bahwa sebagian orang yang berolahraga mengenakan sepatu dan pakaian yang berharga mahal, tapi toch mereka yang berkostum biasa-biasa saja tidak perlu minder.

"Saya mah lari, ya lari saja. Pakai kaus KW (barang imitasi alias tiruan) juga tidak masalah. Yang penting keringatan," kata Dhika, salah seorang warga Jakarta yang ditemui pada Kamis (18/7/2019) malam setelah berlari di sisi luar GBK.

Lari mungkin menjadi salah satu olahraga yang paling banyak dilakoni warga di GBK, namun pilihan untuk berolahraga di sana tentu bukan hanya itu.

Di sudut lain sisi luar GBK, terdapat beberapa Karateka yang sedang digembleng Sensei-nya. Berulang kali mereka melatih rangkaian Kata sampai benar-benar mantap.

Sementara itu pada sisi lain terdapat penyewaan sepeda. Para pengunjung yang datang dapat menyewa sepeda, baik yang berjok tunggal atau sepeda tandem, dengan harga terjangkau.

Kemeriahan GBK pada malam itu semakin terasa, setelah para pegiat senam Zumba melakukan aktivitasnya. Di atas panggung, sang instruktur mencontohkan gerakan yang kemudian diikuti oleh puluhan orang peserta.

Sedangkan di sudut lain, dapat ditemukan beberapa orang yang mengolah tubuhnya dengan melakukan latihan-latihan calistenic. Gerakan-gerakan olahraga ini belakangan semakin diminati banyak orang karena tidak memerlukan peralatan untuk melakukannya.

Selain itu, jangan kira hanya mereka yang sudah bertubuh bagus yang melakukan olahraga di Senayan. Banyak juga pelari dengan bentuk tubuh yang jauh dari ideal namun tidak kehilangan semangat untuk mencari keringat.

Geliat kegiatan olahraga bukan hanya terjadi di sekitar stadion. Kompleks GBK sejak dulu memiliki fasilitas-fasilitas lain seperti lapangan sepak bola dan lapangan basket yang dapat disewa oleh masyarakat.

"Enak main di sini. Lapangannya sekarang rata," kata Randi, salah seorang warga yang menyewa lapangan A, membandingkannya dengan kondisi lapangan sebelum direnovasi.

Sayangnya, renovasi besar-besaran untuk Asian Games 2018 memakan korban yakni para penggemar tenis. Dalam suatu kesempatan, petenis nasional Christopher Rungkat sempat mengeluhkannya.

"Bayangkan saja, rumah kita dibongkar terus diganti menjadi lapangan bisbol, pasti sedih," kata peraih medali emas untuk kategori ganda campuran di Asian Games 2018 ini kepada Antara.

Baca juga: https://www.antaranews.com/berita/953284/christo-sedih-dan-kecewa-rumah-tempat-tumbuhnya-dibongkar
Beberapa Karateka berlatih di lingkar luar Stadion Utama Gelora Bung Karno (SU GBK), Senayan, Jakarta, Kamis (18/7/2019). (A Rauf Andar Adipati)


Olahraga bersama
Dampak positif berolahraga tentu tidak perlu disebutkan lagi, bahkan beberapa institusi tertentu seperti militer dan kepolisian mengharuskan para anggotanya memelihara kondisi fisik dengan berolahraga. Jangan lupa, salah satu calon wakil presiden pada pemilihan presiden 2019 juga merupakan sosok yang sangat menggandrungi kegiatan fisik.

Namun hal lain yang tidak kalah penting adalah melakukan olahraga bersama-sama. Dengan berolahraga dalam kelompok, pelakunya akan lebih mudah mengusir bosan dan lebih termotivasi.

"Kalau tidak ada teman mah rasanya malas. Lari-lari sendirian seperti atlet pro(fesional) saja," kata Dian, salah seorang pelari yang tergabung dalam komunitas lari.

Bagi orang-orang yang sudah memiliki pasangan, berolahraga bersama juga mengandung sangat banyak manfaat. Selain urusan fisik, berolahraga bersama pasangan dapat membuat hubungan mereka harmonis.

Jadi simpan gawaimu, siapkan sepatumu, dan segeralah menuju Senayan!

Oleh A Rauf Adipati
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sosialisasi Pekan Kebudayaan Nasional di CFD Senayan

Komentar