Perlu program bersama dalam pengembangan elektrifikasi

Perlu program bersama dalam pengembangan elektrifikasi

Ilustrasi - Pelayanan jaringan listrik ke Desa Bone, Kabupaten Pinrang, yang dilakukan karyawan PLN Sulselrabar untuk mendukung target elektrifikasi 100 persen, Jumat (29/3/2019). (ANTARA Foto/HO/Humas PLN Sulselrabar)

Jakarta (ANTARA) - Direktur PT Solar Indonesia Energi Irvan Hermala mengatakan perlu ada satu program bersama yang menaungi kolaborasi dan kerja sama dari seluruh pemangku kepentingan yang ingin melakukan pembangunan dan pengembangan elektrifikasi untuk kebutuhan masyarakat yang belum mendapat akses listrik.

"Inisiatif-inisiatifnya sudah banyak cuma memang berjalan sendiri-sendiri, bagaimana caranya di sini kita coba menelurkan satu (program pembangunan pembangkit listrik bertenaga energi terbarukan) itu hasil dari kolaborasi dari berbagai macam pihak yang kemudian bisa direplikasi ke berbagai desa-desa tertinggal di Indonesia," kata Irvan kepada Antara usai Forum Group Discussion "Clean and Affordable Energy" (Energi bersih dan terjangkau), di Jakarta, Kamis.

Dia mengatakan potensi-potensi atau sumber daya yang ada misalnya dari lembaga filantropi saja tersebar di mana-mana, untuk itu seluruh daya ini perlu disatukan untuk memaksimalkan percepatan pembangunan infrastruktur listrik terutama di daerah tertinggal dan terpencil.

Ichsan yang merupakan dosen di Universitas Mercu Buana mengatakan penyatuan daya itu penting dilakukan untuk mendorong pemerataan akses terhadap listrik bagi seluruh masyarakat Indonesia sehingga masyarakat bisa menikmati energi bersih.

"Kelembagaan filantropi bisa jadi solusi untuk masalah finansial (pembangunan pembangkit listrik bertenaga energi terbarukan) yang tadinya bank tidak mau masuk di situ. Investor masuk untuk membuat instalasinya tapi operasionalnya belum mau sampai ke situ," tuturnya.

Sekretaris Koperasi Energi Terbarukan Indonesia (Kopetindo) Ichsan menuturkan salah satu kunci dari percepatan pembangunan elektrifikasi di daerah tertinggal dan terpencil adalah sinergi antar seluruh pemangku kepentingan.

"Kuncinya sinergi karena kementerian juga tidak bisa jalan sendiri, pengembang proyek juga tidak bisa jalan sendiri, (penyedia) pendanaan juga tidak bisa jalan sendiri, jadi kita harus bersinergi. Untuk itu kita harus bicara satu program utuh di mana progam itu juga nyaman bagi kementerian, bagi project developer (pengembang proyek), juga nyaman dari sisi finansial," ujarnya.

Dengan sinergi komprehensif tersebut, maka dapat bersama-sama membangun suatu infrastrukktur listrik di suatu lokasi yang akan mendorong pembangunan ekonomi desa.

"Saya mendorong supaya program ini lebih ke arah ekonomi sirkular itu bukan hanya proyek selesai bangun listrik sudah selesai, tapi kita bicara bahwa semua itu harus kembali ke masyarakat. Masyarakat harus mendapat untung dan manfaat dari proyek itu, sisi produktivitasnya meningkat, baru memperoleh pendapatan," tuturnya.*

Baca juga: Dana desa bisa digunakan untuk membangun pembangkit listrik

Baca juga: Kopetindo: filantropi dorong pembangunan elektrifikasi desa tertinggal

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Memenuhi listrik KEK Mandalika agar ramah investasi

Komentar