Jakarta (ANTARA News) - Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada Sri Adiningsih menilai asumsi pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2012 sebesar 6,7 persen masih terlalu rendah, karena ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh di atas angka tersebut.

"Pertumbuhan ekonomi kita masih lebih rendah dibandingkan dengan potensi yang ada, kita punya potensi untuk tumbuh 7,0 - 8,0 persen," kata Sri Adiningsih di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, pemerintah tidak perlu khawatir dengan "economic bubble" (gelembung ekonomi) dalam menentukan asumsi pertumbuhan ekonomi pada angka yang tinggi, misalkan 7,0 - 8,0 persen, karena Indonesia masih ajuh dari gelembung tersebut.

Ditambahkannya, untuk mencapai angka pertumbuhan yang lebih tinggi pemerintah dapat mengambil langkah dengan menciptakan APBN yang memiliki porsi anggaran lebih besar untuk membangun infrastruktur untuk mendukung industriliasasi di Indonesia.

"Bayangkan, dengan maraknya KKN dan APBN yang banyak di korup, dan juga dengan infrastruktur yang jauh dari harapan saja kita sudah bisa mencapai pertumbuhan sebesar 6,0 persen," ujarnya.

Ia menilai bahwa dalam mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi bukanlah suatu hal yang sulit untuk dilakukan karena Indonesia didukung oleh sumber daya alam yang harganya bagus, usaha mikro yang tumbuh berkembang, serta tingginya konsumsi masyarakat.

"Dari itu saja kita bisa tumbuh 5,0 - 6,0 persen, tapi kalau kita mampu menggerakkan industrialisasi, mampu menciptakan industri yang memiliki nilai tambah tinggi , juga APBN mampu dikurangi kebocorannya, kita mampu untuk tumbuh 7,0 - 8,0 persen, ini tidak terlalu sulit bagi Indonesia," katanya.
(ANT-135)

Editor: Aditia Maruli Radja
Copyright © ANTARA 2011