Kita masih menghadapi `uncertainty` tapi yang penting kita `manageable` dalam penerbitan surat utang."
Jakarta (ANTARA News) - Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan strategi pemerintah untuk menarik pembiayaan melalui penerbitan obligasi mulai awal tahun (front loading), dilakukan dengan pertimbangan maupun melihat kondisi global saat ini.

"Kita masih menghadapi uncertainty tapi yang penting kita manageable dalam penerbitan surat utang," katanya saat ditemui di Jakarta, Rabu malam.

Bambang mengatakan momen yang baik diperlukan dalam penerbitan surat utang, karena kondisi 2014 diperkirakan masih diliputi ketidakpastian akibat kemungkinan penarikan stimulus moneter oleh The Fed (Bank Sentral AS).

"Kita melihat market, kalau ada momen bagus di situ kita masuk, dan masuknya jangan nanggung, karena takutnya tidak ada lagi masa yang bagus," ujarnya.

Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Robert Pakpahan menambahkan penerbitan surat berharga negara (neto) yang relatif tinggi pada awal tahun dibandingkan tahun lalu, dikarenakan adanya penarikan utang jatuh tempo dan tingginya penyerapan dana dari global bond serta lelang obligasi lainnya.

"Mungkin Januari ini ada banyak (utang) yang jatuh tempo dibandingkan Januari tahun lalu. Kita tidak kaku dalam melakukan front loading, karena melihat kondisi global," ujarnya.

Robert menjelaskan kondisi ini sesuai dengan perkiraan pemerintah yang melakukan strategi "front loading" sebanyak 60 persen penerbitan obligasi pada awal tahun hingga semester satu, untuk memenuhi sebagian target pembiayaan APBN 2014.

"Kita mengharapkan data-data kita terus bagus, memang kita tidak tahu secara pasti bagaimana kondisi global, tapi kalau situasi ini bisa di-maintain hingga akhir tahun, lebih bagus. Mudah-mudahan juga pemilu berjalan lancar, agar likuditas masuk dengan mudah," katanya.

Data Direktorat Jenderal Perbendaharaan, hingga 30 Januari 2014 memperlihatkan penerbitan surat berharga negara (neto) untuk menutupi pembiayaan telah mencapai Rp80,9 triliun atau 39,5 persen dari target Rp205,1 triliun.

Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya atau pada Januari 2013, penerbitan surat berharga negara (neto) baru mencapai Rp13,3 triliun atau 7,4 persen dari target yang ditetapkan dalam APBN sebesar Rp180,4 triliun. (*)

Pewarta: Satyagraha
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2014