Moskow (ANTARA News) - Mikhail Khodorkovsky, seorang penentang Kremlin yang menghabiskan waktu satu dekade di dalam tahanan, Sabtu melancarkan gerakan untuk mengajak rakyat Rusia pro Eropa menantang cengkeraman kekuasaan orang kuat Vladimir Putin.

Khodorkovsky, pria yang pernah menjadi orang terkaya di Rusia, dibebaskan dari penjara di penghujung tahun lalu dan sekarang bermukim di Swiss. Dia mendesak para pendukungnya untuk berkumpul agar mampu mempengaruhi masa depan negaranya.

"Minoritas akan berpengaruh jika dihimpun," katanya ketika dia mengumumkan peluncuran gerakannya yang disebut "Open Russia".

Khodorkovsky menekankan bahwa proyeknya yang baru itu akan menggunakan platform online bagi rakyat, bukan partai politik.

Setelah pembebasannya dari penjara, Khodorkovsky yang berbicara lembut, berjanji akan menjauhkan diri dari politik. Tapi proyek barunya tampak untuk mengalirkan ambisi politiknya.

Mantan pimpinan perusahaan minyak Yukos yang sekarang sudah tak beroperasi lagi mengatakan semua orang yang mendukung arah pro Eropa bagi Rusia hendaknya bersatu menjelang pemilihan parlemen yang dijadwalkan berlangsung 2016.

Peluncuran grup itu terjadi pada saat para pengeritik Kremlin mengatakan negara itu, terkunci dalam konfrontasi dramatis dengan Barat karena soal Ukraina, sedang mengalami bencana politik dan ekonomi.

Barat dan Kiev menuduh Kremlin menyerbu Ukraina dan mengancam stabilitas seluruh Eropa.

Khodorkovsky mengatakan dia dan para sekutunya yakin bahwa rakyat biasa dapat membuat Rusia, yang telah terkena sanksi-sanksi Barat, mengubah arah.

"Kami mendukung apa yang mereka sebut pilihan Eropa atau negara diperintah oleh hukum," kata dia.

"Kami percaya bahwa pernyataan Rusia bukan Eropa adalah kebohongan yang diberlakukan atas rakyat dengan ada maksud-maksud di dalamnya.

"Ini dilakukan oleh mereka yang ingin memerintah negara sepanjang hidup, mereka yang ingin meludahi hukum dan keadilan," kata Khodorkovsky yang merujuk kepada Putin, mantan tokoh KGB yang naik ke tampuk kekuasaan pada 1999.

"Kita Eropa, dari sisi geografi dan budaya. Kenyataannya cara pengembangan Eropa tidak berarti penolakan nilai-nilai nasional. Di Eropa tiap negara mengikuti jalannya sendiri," demikian AFP.

(M016)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2014