Sabtu, 25 Maret 2017

TKI Taiwan diajari tata cara bertani organik

| 9.993 Views
id tki di taiwan, tki pertnian, kepala kdei taipei, Devriel Sogia
TKI Taiwan diajari tata cara bertani organik
ilustrasi Seorang petani mencari hama ulat ditanaman bawang merah di Desa Banjar Anyar, Brebes, Jawa Tengah, Selasa (19/4/2016). (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)
Melalui pelatihan ini, kami berharap para TKI bisa menerapkan ilmunya saat kembali ke Tanah Air nanti,"
Jakarta (ANTARA News) - Sejumlah tenaga kerja Indonesia di Taiwan diajari tata cara bertani tanaman organik di areal perkebunan milik warga setempat di Beitou, Taipei.

"Melalui pelatihan ini, kami berharap para TKI bisa menerapkan ilmunya saat kembali ke Tanah Air nanti," kata Kepala Bidang Ketenagakerjaan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, Devriel Sogia, dalam keterangan tertulisnya yang diterima Antara di Jakarta, Senin.

Para TKI yang berjumlah 30 orang tersebut antusias mengikuti pelatihan bertani di areal milik Mr Chan di Beitou itu. Mereka mengaku mengetahui seluk-beluk pertanian. Namun, teknologi dan modifikasi pertanian secara organik masih cukup awam bagi mereka.

Warga Taiwan sudah terbiasa mengonsumsi makanan organik. Bahkan tanaman pertanian di sana tidak menggunakan pupuk kimia karena dianggap membahayakan kesehatan.

Salah satu peserta pelatihan, Rubiyati, menuturkan bahwa dengan belajar bertani secara organik, maka dia bisa mengambil banyak manfaat.

Selain memperoleh ilmu pertanian, dia juga bisa belajar bertani di lahan yang sempit. "Di kampung, saya selama ini bercocok tanam secara umum, bukan teknik organik seperti yang kita pelajari hari ini," ujar perempuan asal Pati, Jawa Tengah, itu.

Peserta lainnya, Sarmi, mengaku akan mengaplikasikan pola tanam seperti itu.

"Saya pernah bercocok tanam bawang merah. Mudah-mudahan pelajaran bertani organik ini bisa saya terapkan di kampung," kata perempuan asal Demak itu.

Sementara itu, Chan menjelaskan bahwa pertanian secara organik dimulai dari tahap pemilihan bibit, penyemaian, menanam bibit, perawatan, hingga masa panen.

"Secara umum, bertani organik, masa panen akan lebih lama daripada cocok tanam pada umumnya. Tapi, kelebihannya, hasil panen lebih sehat dan berkualitas," ujarnya didampingi istri.

Seusai pelatihan, para TKI diajak berkeliling areal perkebunan jagung dan timun. Mengingat pertanian organik sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia, dan pestisida, maka para peserta dapat langsung memetik sayuran organik tersebut dan mengonsumsinya di tempat.

"Rasanya lebih enak," tutur Nur Kholiq, TKI asal Kendal setelah merasakan tanaman organik yang dipetiknya itu.

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga