Rabu, 24 Mei 2017

Hujan es terjadi di Yogyakarta

| 14.378 Views
Hujan es terjadi di Yogyakarta
hujan es (ANTARA FOTO/Muhammad Arif Pribadi)
Yogyakarta (ANTARA News) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisikan Yogyakarta menyatakan hujan es di Kelurahan Kricak, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta pada Kamis sore disebabkan munculnya awan comulonimbus disertai angin kencang.

"Hasil pantauan radar cuaca tadi siang ada kemunculan awan comulonimbus (CB) dengan suhu sangat dingin mencapai di bawah 0 derajat celcius," kata Koordinator Pos Klimatologi dan Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Joko Budiono di Yogyakarta, Kamis.

Sebelumnya Koordinator Operasi Pemantauan Potensi Bencana Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD DIY Krisnadi Setiyawan menyebutkan berdasarkan laporan tim di lapangan pada Kamis (5/1) sore hujan berupa gumpalan es terjadi di Jalan Jatimulyo RT 43 RW 23 Kelurahan Kricak, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta.

Menurut Joko, hujan es itu merupakan fenomena normal yang masih berpotensi terjadi menjelang puncak musim hujan. Awan konvektif yang cukup tebal dengan suhu dingin mencapai di bawah nol derajat celcius, kata dia, dapat memicu terjadinya hujan es.

"Di puncak awan CB terdapat kristal-kristal es. Kristal es itu bisa jatuh bersama hujan yang disertai petir dan angin kencang," kata Joko.

Selain hujan es, lanjut Joko, menjelang puncak musim hujan, selama tiga hari ke depan di DIY masih berpotensi hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang dengan kecepatan 30-40 kilometer per jam, banjir, tanah longsor, pohon tumbang, hingga jalan licin.

Berdasarkan pantauan Pos Klimatologi BMKG terhadap kondisi atmosfer di DIY, kelembaban udara cukup tinggi di bagian atas atmosfer mencapai 80-90 persen. "Angin baratan juga cukup kuat," kata dia.

Sementara saat ini, kata dia, curah hujan di DIY rata-rata mencapai 50-100 milimeter per dasarian. Pada puncak musim hujan yang diperkirakan jatuh pada pertengahan Januari hingga Februari curah hujan naik hingga 150 milimeter per dasarian.

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga