Sabtu, 23 September 2017

Amerika Latin akan kecam ancaman opsi militer Trump

| 4.340 Views
Amerika Latin akan kecam ancaman opsi militer Trump
Wakil Presiden Amerika Serikat, Mike Pence, tertawa saat Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memegang tongkat bisbol ketika mereka menghadiri acara showcase produk Made in Amerika di Gedung Putih di Washington, Amerika Serikat, Senin (17/7/2017). (REUTERS/Carlos Barria)
Karakas/Lima (ANTARA News) - Negara-negara Amerika Latin, dengan dipimpin Peru, sedang berunding untuk mengeluarkan peringatan tertulis terhadap Donald Trump setelah presiden Amerika Serikat itu mengatakan bahwa negaranya sedang mempertimbangkan "opsi militer" terkait Venezuela.

Trump pada Jumat mengancam akan melakukan campur tangan secara militer di Venezuela.

Ancaman itu merupakan peningkatan sikap Washington terhadap krisis yang berlangsung di Venezuela.

Pemerintah Venezuela meremehkan ancaman tersebut dengan menganggapnya sebagai "kegilaan" sementara menteri luar negeri menjanjikan akan mengeluarkan pernyataan kecaman.

Peru merupakan negara pertama yang mengutuk ancaman penggunaan kekuataan. Negara itu sedang merundingkan tanggapan tertulis dengan negara-negara lainnya di kawasan, kata Menteri Luar Negeri Peru Ricardo Luna dalam pernyataan yang dikirim secara eksklusif kepada Reuters pada Sabtu.

Pernyataan itu muncul satu hari setelah Peru mengusir duta besar Venezuela di Lima.

"Semua ancaman asing ataupun dalam negeri untuk menggunakan kekuatan merupakan sikap yang melemahkan tujuan untuk mengembalikan tata pemerintahan demokratis di Venezuela, juga prinsip-prinsip yang dijunjung dalam Piagam PBB," kata Luna.

Peru, di bawah kepemimpinan Presiden Pedro Pablo Kuczynski, sejauh ini telah mengambil tindakan paling keras terhadap pemerintahan sosialis Venezuela.

Venezuela saat ini sedang mengalami krisis ekonomi dan sosial yang parah. Jutaan warganya menderita akibat keterbatasan makanan dan obat-obatan, inflasi yang melonjak serta kerusuhan antipemerintah selama berbulan-bulan, yang telah menewaskan lebih dari 120 orang.

Presiden Nicolas Maduro menghadapi kecaman dari seluruh dunia karena ia memimpin pembentukan majelis yang sangat berkuasa, yang dikritik banyak pihak sebagai wujud kediktatoran.

Maduro mengatakan pembentukan majelis akan membawa perdamaian bagi negaranya, yang merupakan anggota organisasi negara-negara penghasil minyak (OPEC).

Partai Sosialis yang berkuasa telah selama bertahun-tahun menuding Amerika Serikat berencana melakukan serbuan sebagai cara untuk menguasai cadangan minyak Venezuela, yang merupakan terbesar di dunia, melalui serangan militer yang serupa dengan perang Irak. 

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Berita Lainnya
Komentar Pembaca
Baca Juga